foto: pexels.com
Teks ulasan buku juga tidak dibuat dengan sembarangan karena harus memperhatikan beberapa unsur yang ada di dalamnya.

SIAPGRAK.COM - Bagi kamu pecinta buku tentu akan menjadikan teks ulasan buku sebagai bahan pertimbanganmu untuk membaca atau membeli buku. Dengan membaca teks ulasan buku, maka kamu bisa memperkirakan apakah buku yang kamu inginkan layak dibaca atau tidak.

Teks ulasan buku sendiri memuat tinjauan dari buku, baik fiksi maupun non fiksi. Tujuan dari dibuatnya teks ulasan buku adalah menginformasikan pembaca tentang kualitas buku yang dilihat dari tanggapan, analisis, serta pendapat pribadi penulis ulasan terhadap sebuah buku.

Teks ulasan buku juga tidak dibuat dengan sembarangan karena harus memperhatikan beberapa unsur yang ada di dalamnya. Unsur-unsur yang terdapat dalam teks ulasan buku, di antaranya orientasi, tafsiran, evaluasi, dan rangkuman.

1. Orientasi, memberikan gambaran umum mengenai buku yang diulas, serta memasukkan sinopsis dari buku tersebut.
2. Tafsiran, memuat pandangan pribadi dari penulis ulasan terhadap buku yang diulasnya. Penulis ulasan bisa memasukkan keunikan buku, kelebihan, dan kualitas yang ada didalamnya.
3. Evaluasi, dalam bagian ini penulis memberikan penilaian terhadap suatu buku seperti kelemahan yang dimiliki sebuah buku.
4. Rangkuman
Pada bagian ini, penulis ulasan membuat intisari atau rangkuman dari ulasan yang telah dibuatnya. Penulis juga bisa memberikan kesimpulan apakah buku yang diulasnya layak untuk dibaca atau tidak.

Supaya kamu memahami lebih lanjut mengenai teks ulasan buku, kamu bisa membaca beberapa contoh teks ulasan buku. Nah, berikut SIAPGRAK.COM rangkum dari berbagai sumber, Jumat (14/1), inilah contoh teks ulasan buku yang bisa kamu baca.

1. Teks ulasan buku pengembangan diri

foto: pexels.com

Judul : How to Respect Myself: Seni Menghargai Diri Sendiri
Penulis : Yoon Hong Gyun
Alih bahasa : Asti Ningsih
Penyunting : Rani Andriani Koswara
Penyeleras akhir: Lukito AM
Desain awal : Kyu
Penata letak dan pendesain sampul : Arief Hidayat
Diterbitkan pertama kali oleh : TransMedia Pustaka

Seberapa sering kita merasa rendah diri? Dalam situasi dan kondisi seperti apa kita merasakan emosi dan perasaan yang tidak nyaman? Memahami emosi dan perasaan sendiri tak jarang butuh proses yang panjang. Mengenali diri sendiri dengan baik pun kadang butuh perjuangan yang berliku.

Bahkan mungkin selama ini kita masih belum cukup baik dalam menghargai diri sendiri. Mungkin kita masih belum bisa mengenal dengan baik harga diri yang kita punya.

Saat kita belum bisa menghargai diri sendiri dengan baik, seringkali kita akan kesulitan dalam menerjemahkan emosi dan perasaan sendiri. Selain itu, kita bisa kesulitan juga dalam melewati masa-masa sulit seorang diri.

How to Respect Myself, buku yang ditulis oleh seorang dokter Kejiwaan, Yoon Hong Gyun ini bisa menjadi referensi bacaan yang bagus bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal diri, lebih mencintai diri sendiri, serta lebih menghargai diri sendiri. Kehidupan tak selalu menawarkan kemudahan dan kebahagiaan.

Ada saat-saat kita merasa ciut atau bingung dalam menghadapi situasi yang tak pernah kita duga, seperti kesepian, perpisahan, hingga soal menerjemahkan emosi dan perasaan sendiri. Bagaimana anda menjaga dan mencintai diri sendiri?

Metode Pelatihan Mandiri untuk Harga Diriala Dokter Kejiwaan ‘dr. Yoon si Penjawab.’ Selain mengandung 24 latihan untuk meningkatkan kepercayaan diri, buku ini juga terbagi dari tujuh bagian berikut.

1. Bagian pertama penanganan kesalahpahaman dan prasangka atas ‘harga-diri’ serta mengajak Anda menyadari pentingnya kepercayaan diri dalam kehidupan.
2. Bagian dua dan tiga memaparkan penanganan hubungan percintaan, relasi, dan perpisahan yang dapat menurunkan kepercayaan diri.
3. Bagian empat dan lima merupakan ‘panduan menangani emosi’. Dalam bagian-bagian ini disertakan tip dan trik menangani perasaan rendah diri, seperti membenci diri sendiri, depresi, dan kecemasan.
4. Bagian enam dan tujuh memaparkan berbagai tip praktis, spesifik, dan efektif yang dapat meningkatkan kepercayaan diri.

Setelah membaca buku ini, pada akhirnya Anda akan memiliki perspektif hidup yang berbeda dan mulai mencintai diri sendiri apa adanya. Tak ada lagi kebimbangan dalam memutuskan segala hal dan terpengaruh pendapat atau penilaian orang lain. Orang yang mampu mengontrol emosi dengan baik ditandai dengan pemahaman bahwa emosi itu tidak terbatas pada masalah yang saat itu dihadapinya.

"Sebagai contoh, ketika seseorang marah pada bawahannya, ia menyadari bahwa kegusarannya tersebut merupkan kombinasi atas sebuah pengalaman yang dapat dibawa dari masa lalu, situasi saat ini, dan juga kondisi dirinya," tulis Yoon Hong Gyun dalam buku ini.

Untuk senantiasa merasa percaya diri dan bisa mengontrol emosi dengan baik, penting bagi kita untuk bisa mengenal diri dengan baik. Mengenal diri yang dimaksud di sini mencakup bisa senantiasa mengendalikan diri, mencintai kelebihan serta kekurangan diri, dan memiliki kendali diri yang baik terkait dengan harga diri. Banyak fakta dan penjelasan dalam buku ini yang sangat membuka mata.

Pembahasan soal cara dan kiat membangun harga diri dipaparkan dengan penjelasan yang mudah dipahami. Selain itu, buku ini juga menghadirkan rubrik khusus yang bisa dipraktikkan langsung di kehidupan sehari-hari dalam upaya membangun dan meningkatkan harga diri.

Kita bisa membaca buku ini mulai dari bab mana saja. Hanya saja sepertinya akan lebih baik jika buku ini dibaca dengan runut karena tiap tulisan di masing-masing bab saling terkait. Sehingga jika membacanya melompat-lompat, dikhawatirkan kita akan kesulitan mencerna setiap topik dan pembahasan yang diuraikan.

Tidak perlu terburu-buru membacanya karena ada banyak hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga ada banyak poin menarik yang bisa kita ambil manfaatnya.

"Kita tidak bisa menjadi pribadi yang selalu dicintai oleh semua orang. Masalah akan selalu datang dalam kehidupan kita. Kita akan mengalami penolakan. Kita akan mengecewakan. Hati kita tak selamanya diliputi oleh kebaikan. Setiap orang memiliki masalah internal. Ada ambisi, nafsu, kecemburuan, dan rasa iri yang tersembunyi. Ada rasa kurang percaya diri dan hasrat untuk bergantung." (hlm. 65)

"Untuk dapat mengontrol emosi, kita harus tahu cara menghadapinya. Emosi bagaikan ombak yang membentang di depan kita. Kita harus bersiap-siap untuk menaikinya agar tidak terseretd di dalamnya. Orang yang terlalu lama hanyut di dalam ombak akan mudah takut hanya dengan melihatnya saja. Agar bisa menaikinya, kita harus mulai dengan berlatih membuka mata." (hlm. 164)

Karena ditulis oleh seorang dokter kejiwaan yang sudah sangat berpengalaman, banyak cerita yang ia uraikan berdasarkan kejadian yang dialami langsung oleh klien-kliennya. Jadi, buku ini tak sebatas berisi kata-kata mutiara saja. Ada muatan yang sangat informatif untuk diaplikasikan ke kehidupan kita sendiri.

How to Respect Myself, buku yang termasuk dalam salah satu jajaran buku paling laris di Korea Selatan ini bisa jadi referensi bacaan yang menarik bagi siapa saja yang ingin mengenal diri lebih jauh. Baca perlahan dan resapi, lalu praktikkan latihan-latihan yang dianjurkan, maka besar kemungkinan kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan nyaman.

Sumber: fimela.com

2. Teks ulasan buku bertema sosial

foto: pexels.com

Judul : Feminisme Islam: Genealogi, Tantangan, dan Prospeknya di Indonesia
Penulis : Etin Anwar
Penerjemah : Nina Nurmila
Penyunting : Ahmad Baiquni
Perancang sampul : Andreas Kusumahadi
Pemeriksa aksara : Fitriana & Dwi Kurniawati
Penata aksara : Nuruzzaman
Cetakan Pertama : Juni 2021
Penerbit : Mizan

Seberapa jauh dan dalam pemahaman kita soal feminisme? Sebanyak apa pula pengetahuan kita soal feminisme dan Islam? Topik ini memang bukan topik yang mudah untuk dibahas dan dipahami dalam waktu singkat. Bahkan mungkin di antara kita masih ada yang kebingungan mencari rekomendasi buku atau referensi yang tepat untuk memulai memahami feminisme dan Islam.

Buku yang satu ini bisa jadi rujukan yang tepat bagi siapa saja yang ingin mendapat pemahaman dan pemaparan jelas dan detail soal feminisme dan Islam. Feminisme Islam: Genealogi, Tantangan, dan Prospeknya di Indonesia ditulis oleh Etin Anwar, seorang pakar kajian sosial Islam. Buku yang dibuka dengan kalimat "Untuk perempuan dan laki-laki pencinta keadilan dan kemanusiaan" ini memuat 5 bab, antara lain:

1. Pembentukan Zaman Emansipasi: Batu Loncatan Menuju Kesetaraan Gender

2. Zaman Asosiasi dan Politik Emansipasi

3. Politik Gender pada Zaman Pembangunan: Pembentukan Negara dan Keseteraan Feminis

4. Melahirkan Kesetaraan pada Zaman Integrasi: Menjadikan Islam sebagai Kerangka Kerja Etis bagi Emansipasi

5. Zaman Penyebaran dan Wacana Feminisme Islam

Feminisme Islam menawarkan wawasan baru tentang perubahan hubungan antara Islam dan feminisme di era kolonial pada 1900-an hingga awal 1990-an di Indonesia. Menggunakan pendekatan genealogis, Etin Anwar mengkaji pertemuan antara Islam dan feminisme serta upaya untuk menemukan kembali egalitarianisme dalam tradisi Islam, sebuah konsep yagn telah dituntukkan oleh sistem gender hierarkis. Buku ini juga menyusu pertemuan perempuan Muslim dengan Islam dan feminisme ke dalam lima zaman: emansipasi, asosiasi, pembangunan, integrasi, dan penyebaran.

Buku ini menawarkan wacana tentang apa artinya menjadi seorang perempuan Muslim dalam konteks kolonialisme dan postkolonialisme di Indonesia, dan bagaimana meereka memperjuangkan kesetaraan dalam jalur-jalur perjumpaan mengenai keadilan gender antara yang lokal dan yang global, kekuatan budaya asli dan asing mengenai peran gender, ideologi negara, dan penekanan agama tentang aturan gender, serta argumen sekuler/feminis dan Islam mengenai kesetaraan.

"Saya memosisikan buku saya ini sebagai karya penelitian genealogi untuk menunjukkan bagaimana hubungan antara Islam dan feminisme berubah; merekam proses wacana tentang bagaimana feminisme Islam muncul; menemukan berbagai tempat yang mendukung kemunculan feminisme Islam; dan menelaah bentuk-bentuk wacana tentang dukungan feminis Islam terhadap kesetaraan pada awal 1990-an. Studi-studi tentang perempuan dan Islam di Indonesia relevan untuk ditelaah sejauh studi-studi tersebut membantu fokus buku ini." (hlm. 11)

Di bagian Pendahuluan, penulis memaparkan lingkup hingga tujuan penulisan buku ini. Sebagai sebuah karya penelitian, buku ini memuat pemaparan yang runtut dan penting soal titik temu antara Islam dan Feminisme. Memahami kesenjangan gender, dinamika perjumpaan antara Islam dan feminisme, hingga bagaimana feminisme Islam di Indonesia muncul dan bertumbuh kembang sejak tahun 1900-an hingga awal 1990-an, semua ada di buku ini.

Setiap bab buku ini disertai dengan kesimpulan. Sehingga memudahkan kita untuk memahami intisari setiap topik dan pembahasan di masing-masing babnya. Membincangkan perempuan dan gerakan kesetaraan gender memang bukan hal mudah. Meskipun begitu, dengan menelaah sejumlah studi dan referensi yang tepat, kita bisa mendapatkan pemahaman yang berimbang dan sangat membuka wawasan kita.

"Karya ini menunjukkan bagaimana analisis-konseptual komparatif tentang kesetaraan spiritual antara laki-laki dan perempuan dalam Islam berpadu dengan tuntutan sekunder dan feminis akan kesetaraan gender di ranah pribadi dan publik." (hlm. 17)

Isu yang begitu kompleks dibahas dengan sangat runtut disertai dengan sumber kepustakaan yang lengkap, ada banyak hal menarik terkait feminisme dan pertemuannya dengan dunia Islam yang bisa kita temui. Ada baiknya kita membaca setiap bab dan topik dengan perlahan agar bisa mencernanya dengan lebih mudah.

Bagi yang ingin memahami dan belajar lebih banyak soal sejarah perubahan transformatif yang terjadi sejak awal munculnya peningkatan kesadaran aktivitas perempuan selama zaman kolonialisme hingga masa setelah kolonialisme ketika Islam dan feminisme mulai menyatu, buku ini bisa jadi rujukan yang tepat. Bagi yang masih awam dengan isu-isu feminisme, buku ini pun bisa jadi "pintu pertama" yang dapat kita buka untuk membawa kita ke ranah dunia pengetahuan yang lebih luas.

Sumber: fimela.com

3. Teks ulasan buku fiksi

foto: pexels.com

Judul : How to Stop Time
Penulis : Matt Haig
Alih Bahasa: Lanny Murtihardjana
Editor : Muthia Esfand dan Rosi Simamora
Desain sampul : Martin Dima
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

"Jangan jatuh cinta," itulah aturan pertama yang ditekankan Hendrich kepada Tom Hazard pada pertemuan yang terjadi lebih dari seabad lalu. Sebuah aturan yang terasa aneh, tetapi itu adalah aturan yang sangat penting mengingat kehidupan Tom, sama seperti Hendrich, berbeda dari orang kebanyakan. Tom menua lebih lama ketimbang orang biasa. Tampak luar, Tom seperti pria berusia 41 tahun.

Namun, siapa sangka sebenarnya ia lahir lebih dari 400 tahun lalu. Lebih dari empat abad dia menjalani kehidupan. Saat orang-orang terdekatnya menua, sakit, dan meninggal, ia masih tetap hidup. Belum lagi dengan kenangan-kenangan menyakitkan yang tak pernah bisa hilang dari benaknya, semua itu terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan yang sudah dijalani lebih dari abad ini.

Anageria, itulah kondisi yang diidap Tom. Sel-sel tubuhnya berbeda dari sel-sel tubuh orang kebanyakan. Sel tubuhnya mengalami proses penuaan yang sangat lambat. Ia bahkan bisa saja hidup hingga ribuan tahun. Sudah hidup selama lebih dari empat abad, jelas ia paham betul rasanya hidup di berbagai zaman. Bahkan Tom mengenal beberapa sosok legendaris, seperti William Shakespeare, Scott Fitzgeralad, dan Charlie Chaplin di masa lalu. Bukan sekadar mengenal biasa, tapi terlibat langsung berinteraksi dan melakukan pertunjukan bersama mereka.

Hanya saja punya kemampuan berumur panjang tak serta merta menghadirkan kebahagiaan. Walaupun dia sudah melewati berbagai zaman, melintasi sejumlah generasi, mengunjungi berbagai negera, dan memiliki kekebalan tidak mudah sakit, tetap saja masa depan adalah sesuatu yang tak pasti. Setelah bergabung dengan Masyarakat Albatross (kelompok rahasia yang melindungi orang-orang seperti Tom), ia tak lantas bisa hidup tenang begitu saja. Dia masih berusaha mencari putrinya, serta masih berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang benar-benar ia inginkan. Tom Hazard menyimpan rahasia berbahaya.

Ia mungkin tampak seperti pria berusia 41 biasa, tapi karena kondisi medis sangat langka, ia sudah hidup berratus-ratus tahun. Tom pernah jadi bagian sejarah---memainkan musik untuk Shakespeare, mengekspolarasi lautan dengan Captain Cook, dan minum koktail dengan Fitzgerald. Sekarang, ia hanya ingin hidup normal.

Jadi Tom pindah ke London, tempat tinggal lamanya, untuk jadi guru sejarah---pekerjaan yang pas untuk orang yang menyaksikan sejarah kota itu dengan mata kepala sendiri. Tom mengira ia akan mendapatkan hidup yang diinginkannya. Hingga seorang wanita yang jadi guru bahasa Prancis di sekolahnya tampak tertarik padanya. Tapi Masyarakat Albatross, kelompok rahasia yang melindungi orang-orang seperti Tom, punya satu aturan: jangan jatuh cinta.

Ketika kenangan masa lalu yang menyakitkan dan tindakan membahayakan dari pemimpin Masyarakat Albatros mengancam kehidupan baru dan kisah cintanya, satu hal yang tak bisa ia miliki mungkin malah jadi satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya. Tom harus memutuskan apakah ia akan tetap terjebak di masa lalu, ataukah ia siap untuk hidup di masa kini?

"Tidak jarang aku merasa putus harapan. Pencarianku tidak hanya untuk menemukan hal lain yang hilang dariku, makna hidup. Tujuan hidup. Terpikir olehku manusia tidak hidup lebih lama dari seratus tahun karena memang tidak dimampukan untuk itu. Maksudku secara psikologis. Kau seakan kehabisan energi. Tidak tersedia cukup keinginan untuk melanjutkan hidup. Kau terlampau jenuh dengan pikiranmu sendiri seiring berulangnya siklus kehidupan." (hlm. 45)

Selama menjadi bagian dari Masyarakat Albatross, Tom harus melakukan tugas yang diberikan oleh Hendrich. Ada misi yang harus ia tuntaskan di setiap penugasan. Selain, saat menetap di suatu tempat tidak boleh lebih dari delapan tahun. Kalau sudah delapan tahun, maka harus pindah ke tempat atau negara lain dengan identitas baru.

Sampai kemudian Tom pindah ke London, tempat tinggal lamanya. Ia memilih menjadi guru sejarah. Namun, siapa sangka di sini ia malah jatuh cinta. Ada seorang guru yang menarik perhatiannya, bahkan tampak sudah mengenal dirinya jauh sebelum pertemuan pertama mereka. Tom jatuh cinta lagi, tapi dia dilarang jatuh cinta.

Belum lagi dengan kenangan ratusan tahun lalu yang telah menorehkan luka begitu dalam, tentang Rose dan putrinya. Rose yang sangat dicintainya dan putrinya yang entah ada di mana. Tom masih berjuang menemukan putrinya karena ia merasa putrinya pun mewarisi kondisi yang sama dengannya, hanya saja sudah ratusan tahun ini hasilnya nihil.

"Selama bertahun-tahun ini aku berhasil meyakinkan diri bahwa kepedihan kenangan terasa lebih berat dan lama daripada saat-saat bahagia. Karena itu, dengan menggunakan semacam matematika emosional yang kejam, aku memutuskan lebih baik tidak mencari cinta, persahabatan, bahkan pertemanan." (hlm. 163)

Mengidap kondisi langka yang membuat kita bisa hidup jauh lebih lama dari orang kebanyakan bukan jaminan kebahagiaan. Seperti Tom yang sudah melewati berbagai pengalaman hidup, tetap saja dia tak pernah bisa tahu apa yang akan terjadi di depan. Masa depan tetaplah misteri. Kehidupan selalu menyuguhkan kejutan yang tak terduga.

"Hidup ini mempunyai irama yang janggal. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menyadari hal ini. Sekian dekade. Bahkan berabad-abad. Irama yang tidak mudah. Bagaimanapun, irama itu tetap ada. Kecepatannya berubah dan turun-naik. Di dalam struktur ada struktur, dan di dalam pola tersimpan pola. Sungguh mengagumkan." (hlm. 316)

Novel ini benar-benar menyuguhkan cerita yang memikat. Kita akan diajak untuk melintasi berbagai dimensi waktu dan negara. Mengikuti pengalaman Tom bertemu dengan seniman-seniman klasik dan sosok-sosok legendaris. Selain itu, kita juga akan ikut terhanyut dengan pergolakan batin yang dialami oleh Tom.

Kesedihan yang masih melekat tentang kematian kedua orangtuanya dan istrinya. Kerinduan yang mendalam pada orang-orang terkasih hingga rasa penuh ketidakpastian tentang keberadaan putrinya. Bahkan di akhir novel ini, ada kejadian yang membuat pembaca bisa menitikkan air mata. Begitu sedih dan pilu. Namun, sekaligus memberi secercah harapan baru.

Mengikuti kisah Tom kita pun akan ikut digiring untuk kembali merenungkan makna hidup. Kehidupan ini memang tak selalu mudah untuk dijalani. Tak pernah bisa kita memastikan atau tahu dengan pasti hal-hal yang menanti kita di depan sana. Pun kita tak bisa kembali ke masa lalu meski semua bayangan dan kenangan di masa itu masih teringat jelas di benak kita.

How to Stop Time, novel ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja. Kisah Tom mengajak kita untuk menyelami hidup kita sendiri. Mengajak kita untuk kembali memeluk diri sendiri, serta mendorong kita untuk menjalani kehidupan kita dengan penuh kesadaran.

Sumber: fimela.com

4. Teks ulasan buku novel

foto: pexels.com

Judul : Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Halaman : 529
Penerbit: Bentang Pustaka
Tanggal Publikasi: 2008

Laskar Pelangi adalah sebuah novel yang pertama kali ditulis oleh Andrea Hirata. Novel Laskar Pelangi termasuk novel yang populer di Indonesia, bahkan novel ini diadaptasi menjadi sebuah film Indonesia yang sukses mendapatkan banyak penonton. Novel Laskar Pelangi mengisahkan tentang 11 anak yang berasal dari keluarga miskin, yang selalu berjuang dalam menempuh pendidikannya di sekolah sederhana, yang ada di Belitong.

Novel ini bisa dibaca semua umur, mulai dari anak-anak hingga dewasa, dan bisa dijadikan sebagai motivasi untuk para pelajar. Ada banyak hal menakjubkan yang dialami para anggota Laskar Pelangi. Anak-anak ini terus berjuang walaupun keadaan tidak bersimpati dengan mereka. Sekolah yang merupakan wadah untuk mereka mencari ilmu, nyaris dibubarkan Depdikbud Sumatera Selatan.

Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka.

Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu bahkan terkadang hanya untuk menyanyikan padamu negeri di akhir jam sekolah atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus, dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita.

Novel ini merupakan sebuah karya pertama yang diluncurkan oleh Andrea Hirata. Karyanya ini berhasil menembus royalti hingga Rp. 4 Miliar. Buku novel Laskar Pelangi berhasil diterima dikalangan masyarakat, baik anak-anak maupun dewasa. "Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia."

Para Laskar Pelangi menempuh pendidikan di sekolah yang ada di Belitong, dengan fasilitas sekolah yang sangat minimal, bangunan yang hampir roboh dan guru yang sedikit. Sekolah tersebut dibangun dengan keikhlasan, yang merupakan sebuah harapan terakhir bagi para pelajar. Namun, sekolah tersebut nyaris dibubarkan Depdikbud Sumatera Selatan.

Kondisi sekolah tersebut sungguh memprihatinkan. Bangunannya sungguh tak layak untuk digunakan. Sang guru yang masih bertahan mengajar di sekolah tersebut, hanya dibayar menggunakan beras oleh orang tua murid. "Kekuatan itu berasal dari ketekunan, keyakinan yang kuat untuk mencapai cita-cita keberanian dan pantang menyerah."

Kepala sekolah dan guru sekolah tersebut, berusaha membuat perubahan untuk sekolah dan para murid yang ada, sehingga para murid memiliki semangat belajar yang tinggi, serta memiliki cita-cita yang tinggi. Karena banyaknya perubahan yang dilakukan oleh murid, maka kepalas sekolah dan guru tersebut memberikan julukan Laskar Pelangi, kepada para murid yang bersekolah.

"Bermimpilah setingi-tinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang." Para Laskar Pelangi pun dibimbing oleh kepala sekolah dan guru, sehingga memiliki jiwa yang teguh hati, mampu untuk berkompetisi, saling menghargai dan semangat dalam menggapai cerita.

Para Laskar Pelangi berhasil menjuarai karnaval dan kejuaraan lainnya. Mereka menunjukkan kemampuannya, semangat dan mampu berkompetisi. Bahkan sekolah dengan akreditasi tinggi dan unggul, kalah dengan prestasi para Laskar Pelangi. "Maka dinegeri ini, para pemimpi adalah pemberani.

Mereka kesatria ditanah namun tidak perduli. Medali harus dikalungkan dileher mereka." Novel Laskar Pelangi dikemas dengan alur cerita yang jelas dari awal hingga akhir. Penokohan yang digambarkan dalam novel pun tersampaikan dengan jelas. Sehingga para pembaca novel ini, berhasil menjiwai dan meresapi setiap cerita dan alur yang dikemas dalam novel ini.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dalam novel Laskar Pelangi. Kita harus semangat dalam menempuh pendidikan dan mencari ilmu, agar segala yang dicita-citakan berhasil digapai, seperti kesuksesan yang diraih para Laskar Pelangi.

Sumber: fimela.com

5. Teks ulasan buku thriller

foto: pexels.com

Judul : Confessions
Penulis : Minato Kanae
Halaman : 300
Penerbit: Penerbit Haru
Tanggal Publikasi: 2019

Confessions atau Kokuhaku dalam bahasa aslinya adalah sebuah kisah yang meresahkan dari Kanae Minato, salah satu penulis besar dari genre thriller di Jepang. Meresahkan dalam artian buku ini meninggalkan kesuraman setelah pembaca menutup halaman terakhir buku. Buku dengan target pembaca usia dewasa ini dibuka dengan adegan tipikal pada suatu kelas di SMP. Seorang guru perempuan berbicara di depan, sementara para siswa sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Tak ada yang mendengarkan ucapan sang guru. Tetapi ketika sang guru mengumumkan pengunduran dirinya, mendadak seluruh kelas memperhatikan. Yuko Moriguchi memutuskan berhenti mengajar karena Manami, putri kecilnya tewas dan siswa di kelas itu yang telah membunuhnya.

Cerita Confessions kemudian bergulir dari sudut pandang Yuko Moriguchi. Tetapi karakter-karakter lain, termasuk para pembunuh putri Moriguchi juga menceritakan kisah mereka sendiri di bab-bab berikutnya. Alur Confessions semakin mendebarkan di setiap halaman. Pengakuan Moriguchi di depan kelas bagaikan bola salju yang bergulir semakin besar dan melindas segala sesuatu yang dilaluinya. Suasana di kelas berubah total sejak peristiwa itu. Hanya masalah waktu sebelum pembunuhan lain terjadi.

Aspek paling meresahkan dari Confessions adalah kenyataan bahwa cerita ini bisa saja terjadi dalam kehidupan nyata. Confessions memang cuma fiksi, sebuah cerita rekaan belaka. Tapi kondisi masyarakat dalam novel tersebut sangat mirip dengan kehidupan kita sehari-hari.

Kita juga hidup di masa di mana pembunuhan oleh remaja di bawah umur kerap muncul di pemberitaan. Pada akhirnya, buku ini membuat pembaca merenung. Apa yang salah dalam masyarakat kita sehingga melahirkan kecenderungan untuk tindakan kriminal dalam diri para pemuda?

Iyamisu, thriller yang membuat para pembaca Jepang bergidik

Confessions yang ditulis oleh Kanae minato tergolong genre iyamisu. iyamisu adalah subgenre thriller dalam literasi Jepang. Menurut Hon no Zasshi, secara etimologis iyamisu berarti misteri yang membuat pembaca bergidik dan bergumam, "Ihh!". Istilah ini sendiri dipopulerkan oleh kritikus misteri Aoi Shimotsuki pada tahun 2006.

Iyamisu adalah genre psychological thriller yang menonjolkan sisi gelap sifat manusia. Di sini pelaku tindak pidana bukan seorang psikopat murni seperti di film-film, tetapi hanya orang biasa yang terseret untuk melintasi batas antara benar dan salah.

Genre iyamisu booming di Jepang sejak tahun 2012. Selain Minato, Mahokaru Numata dan Yukiko Mari juga dikenal sebagai spesialis dalam genre ini. Jika dibandingkan dengan thriller yang menuai popularitas internasional, karya-karya Gillian Flynn, penulis Gone Girl juga bisa dikategorikan sebagai iyamisu. Meskipun Confessions baru menuai status best seller internasional pada tahun 2014, buku ini sudah rilis di Jepang pada tahun 2008. Juga sudah diadaptasi ke layar lebar di tahun 2010 oleh sutradara Tetsuya Nakashima.

Sama seperti bukunya, film Confessions menuai sukses dan diganjar sejumlah penghargaan di berbagai festival film. Film ini bahkan sempat mewakili Jepang di Academy Award 2011.

Menurut opini pembaca, film Confessions memang berhasil menangkap esensi bukunya dengan baik. Selain itu film disajikan dengan sinematografi yang apik, menampilkan nuansa gelap namun artistik. Tentu saja ada beberapa dialog yang diubah agar para penonton bisa mendapatkan emosi yang sama seperti para pembaca bukunya.

Sumber: m.merdeka