Foto Presiden Rusia Vladimir Putin di jaringan pipa gas Rusia di Vladivostok, 2011. Bank Pembangunan Eropa Beri Pinjaman 316 Juta Dolar AS ke Moldova untuk Memutus Pasokan Gas Rusia

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
SIAPGRAK.COM, CHISINAU - Bank Rekonstruksi dan Pembangunan Eropa (EBRD) mengatakan pada Kamis (23/6/2022) akan meminjamkan dana sebesar 300 juta euro atau senilai 316 juta dolar AS ke Moldova.

Dana tersebut bertujuan untuk membantu Moldova bertahan menghadapi gangguan pasokan energi, yang diperparah oleh invasi Rusia ke Ukraina.

Moldova, yang terletak di antara Ukraina dan Rumania, memenuhi hampir semua kebutuhan gasnya untuk industri dan konsumen rumah tangga dari raksasa energi Rusia Gazprom.

SIAPGRAK.COM

Moldova memiliki kontrak dengan Gazprom yang diperpanjang hingga tahun 2026.

Namun negara ini menghadapi negosiasi harga yang sulit, dan pasokan gas yang dikirim ke Moldova telah melonjak bahkan sebelum invasi Ukrina. Sehingga negara ini kesulitan untuk membayar tagihan gasnya.

Pinjaman yang diberikan EBRD ke Moldova akan diberikan dalam dua tahap. Dalam tahap pertama, EBRD akan memberikan dana sebesar 200 juta euro, yang digunakan untuk menghindari gangguan pasokan gas.

Pada tahap kedua Moldova akan menerima dana sebesar 100 juta euro, yang digunakan untuk membangun cadangan energi strategis di Ukraina atau Rumania.

"Kami bekerja di musim panas sehingga kami memiliki lebih sedikit kekhawatiran di musim dingin," kata Wakil Perdana Menteri Moldova, Andrei Spinu, yang dikutip dari Reuters.

EBRD mengatakan, pinjaman yang diberikan akan membiayai 20 persen dari rencana impor gas Moldova tahun ini, dan akan diberikan kepada perusahaan energi milik negara Moldova, JSC Energocom untuk mengamankan pasokan gas.

"Ini akan memastikan pasokan gas yang tidak terputus di Moldova dan melindungi kebutuhan dasar dan mata pencaharian ekonomi 2,7 juta orang Moldova dan pengungsi dari Ukraina," kata EBRD.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina, serangkaian ledakan telah menghantam wilayah Transnistria, yaitu daerah separatis pro-Rusia di Moldova, memicu spekulasi bahwa Rusia dapat mengirim pasukan melintasi perbatasan.

Pemerintah Moldova memberlakukan keadaan darurat dan melarang siaran berita berbahasa Rusia, tidak lama setelah Rusia menyerang Ukraina.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengkritik langkah tersebut, dan mengatakan Moldova berusaha untuk menghapuskan segala hal yang berbau Rusia.

"Ini menyedihkan," kata Lavrov kepada Televsi Pemerintah Belarusia, dalam sebuah wawancara yang dirilis pada Kamis kemarin.