Sampai akhir 2021 WHO mencatat setidaknya ada 126 negara di dunia yang sudah memberi rekomendasi untuk vaksin booster . (Foto: MNC Media)
Sampai akhir 2021 WHO mencatat setidaknya ada 126 negara di dunia yang sudah memberi rekomendasi untuk vaksin booster . (Foto: MNC Media)

IDXChannel -  Mantan Direktur World Health Organization (WHO) Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan saat ini setidaknya ada 126 negara di dunia yang sudah memberi rekomendasi untuk vaksin booster atau tambahan, dan lebih dari 120 negara yang sudah mulai mengimplementasikannya.

“Sampai akhir 2021 WHO mencatat setidaknya ada 126 negara di dunia yang sudah memberi rekomendasi untuk vaksin booster atau tambahan, dan lebih dari 120 negara yang sudah mulai mengimplementasikannya,” kata Tjandra dari keterangan yang diterima, Senin (17/1/2022).

Tjandra pun menjelaskan tujuan vaksinasi tambahan adalah meningkatkan respon imun sehingga dapat memberi perlindungan memadai terhadap penyakit.

Vaksinasi booster, kata Tjandra diberikan pada mereka yang sudah selesai mendapatkan vaksinasi Covid-19 primer dimana dalam perjalanan waktu ternyata imunitas dan perlindungan kliniknya menjadi berkurang dan menjadi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. “Booster bertujuan mengembalikan efektifitas vaksin sehingga membaik kembali,” katanya.

Tjandra mengungkapkan dari sebuah penelitian “UK Health Security Agency” bahwa 2 minggu sesudah pemberian booster maka level proteksi akan naik sampai 93,1% pada mereka yang vaksin primernya AstraZeneca. “Dan naik menjadi 94% pada yang vaksin primernya adalah Pfizer.”

Bahkan, kata Tjandra dari penelitian tersebut juga diungkapkan bahwa risiko masuk rumah sakit akibat Omicron turun 81% yang sudah divaksin tiga kali atau booster. “Risiko masuk rumah sakit akibat infeksi Omicron turun 65% pada mereka yang sudah divaksin dua kali dan turun 81% pada yang sudah divaksin 3 kali.”

Sementara itu, Tjandra mengungkapkan penelitian lain dari Skotlandia bahwa mereka yang sudah mendapat vaksinasi dosis ke tiga atau ”booster” punya risiko 57% lebih rendah untuk menunjukkan gejala-gejala sesudah terinfeksi Omicron. (TIA)