wika.sarinah
Gedung Sarinah

SIAPGRAK.COM - Siapa yang tidak mengenal gedung Sarinah? Sebagian besar warga Jakarta mungkin sudah akrab dengan pusat perbelanjaan tertua di ibu kota ini.

Meski legendaris, ada beberapa fakta gedung Sarinah dan objek di sekitarnya yang relatif belum banyak diketahui orang.

Fakta-fakta menarik ini Kompas.com dapatkan saat berpartisipasi dalam Jakarta Walking Tour rute Thamrin bersama Jakarta Good Guide sebagai penyelenggara.

Sebelum kembali mengunjungi gedung yang rencananya akan dibuka Maret 2022 mendatang, coba simak dulu beberapa faktanya.

1. Pusat perbelanjaan pertama dan tertua di Indonesia

Sarinah merupakan properti multifungsi yang terdiri dari pusat perbelanjaan dan perkantoran. Gedung setinggi 74 meter ini dirancang berisi 15 lantai.

Pembangunannya dimulai pada tahun 1962 dan diresmikan empat tahun kemudian oleh Presiden pertama RI, Soekarno.

"PT Sarinah (Persero) dibentuk pada 1962. Rencana awalnya untuk tempat perbelanjaan delegasi Asian Games IV. Namun, ternyata belum terbangun. Akhirnya baru bisa selesai dan diresmikan Agustus 1966," kata Tour Guide Jakarta Walking Tour Farid, Minggu (23/1/2022).

Sudah sekitar 50 tahun lebih berdiri, Sarinah menjadi pusat perbelanjaan sekaligus pencakar langit pertama di Indonesia yang sudah mengalami beberapa perbaikan.

2. Sarinah, nama pengasuh Bung Karno

Konon, Sarinah berasal dari nama pengasuh Soekarno saat menghabiskan masa kecil di Jawa Timur. Apa alasan hingga namanya diabadikan sebagai pusat perbelanjaan?

Menurut Soekarno, pengasuhnya memiliki karakter dan jiwa yang besar. Ia juga mendapat pesan dari Sarinah, yaitu:

"Orang pertama yang harus kamu sayangi adalah ibumu, dan kedua adalah rakyatmu," seperti disampaikan Farid.

Selain kekaguman, pesan ini menjadi salah satu faktor pendorong yang kuat bagi Soekarno untuk mengabadikan nama beliau.

Bukti keberadaan Sarinah dapat ditemukan pada makam miliknya di Tulungagung pada tahun 1958.

3. Dulu punya jembatan penghubung ke Djakarta Theater

Sebelum ditutup pada 2020, desain terakhir Sarinah dari 1992 memiliki tangga dan jembatan di area tersebut. Dulu, tangganya langsung menyatu ke trotoar tanpa ada pagar.

Selain itu, ada jembatan penghubung Sarinah ke Djakarta Theater, sehingga masyarakat tidak perlu keluar lagi.

"Awalnya Djakarta Theater mau dijadikan gudang Sarinah. Tapi kemudian mangkrak dan dijadikan tempat nonton teater," jelas Farid.

Bertahun-tahun yang lalu, hanya ada satu studio dengan kapasitas sampai 1.200 orang. Sehingga, satu film akan diputar dengan berganti-ganti jam.

Lalu, apa yang terjadi dengan jembatan penghubungnya? Jembatan tersebut tiba-tiba roboh pada Maret 1981. Diduga karena dua alasan yaitu pergetaran akibat pembangunan gedung dan lalu lintas padat, serta penurunan tanah.

4. sarinah sempat beberapa kali terbakar

Menurut Farid, gedung Sarinah sempat mengalami beberapa kejadian besar, yaitu kebakaran. Sejak dibuka, ada satu kebakaran yang terjadi satu tahun kemudian.

Lalu, kebakaran terhebat terjadi pada tahun 1984, yaitu mengenai lantai 6 ke atas. Bahkan, sumber air yang dipakai pemadam kebakaran masih kurang, sehingga harus memasok dari Bundaran HI dan Bank Indonesia.

Sempat terjadi beberapa kebakaran lainnya, sebelum kejadian terakhir pada 2015 yang mengenai lantai 13 dan 14 gedung Sarinah.

5. Kisah JPO Kartini di depan Sarinah

Tak hanya Sarinah yang bersejarah, jembatan penyeberangan orang (JPO) di depan bangunan ini ternyata juga memiliki kisah menarik.

Pada masa jabatan 1966-1977, Gubernur Ali Sadikin memikirkan cara agar penyeberangan lebih aman dengan pilihan antara jembatan atau terowongan.

Akhirnya, pilihan jatuh kepada jembatan dengan alasan Jakarta rentan banjir dan khawatir kumuh. Kemudian, JPO pertama di Jakarta dan kemungkinan di Indonesia ini dibuka pada 21 April 1968 pada Hari Kartini, sehingga dinamakan JPO Kartini.

Kini, Sarinah diupayakan untuk dapat dinikmati warga mulai Maret 2022. Selain sebagai pusat belanja pakaian atau barang UMKM, gedung baru Sarinah akan diperuntukkan untuk area kuliner, area digital bisnis (e-commerce), dan juga ruang budaya.

Selain itu, sebagian dari bangunannya juga masih akan tetap digunakan untuk area perkantoran, tanpa menghilangkan unsur asli Sarinah.

"Revitalisasi saat kini diupayakan untuk bisa mirip dengan gedung jaman dulu, yang hanya berbentuk kotak-kotak dan dicat warna putih," ujar Farid menutup sesi Sarinah.

Penulis : Faqihah Muharroroh Itsnaini Editor : Anggara Wikan Prasetya