Penggunaan alat bantu persalinan normal untuk menyelamatkan bayi dan ibu disaat genting. Jangan percaya mitos.

GridHEALTH.id - Saat melakukan persalinan normal, karena satu dan lain hal, bisa saja di tengah jalan tidak lancar.

Jika itu sampai terjadi, biasanya dokter akan menggunakan alat bantu dalam menolong persalinan ibu.

Alat bantu persalinan yang umum digunakan dokter pada persalinan normal adalah vaku, dan forsep.

Alat bantu persalinan vakum

Menurut dr. Indra Anwar, Sp.OG, dari RS Bunda, Jakarta, vakum adalah semacam alat pengisap (negative-pressure vacuum extractor).

Alat bantu ini dipasangkan pada bagian terbawah dari kepala janin.

Syarat penggunaan alat vakum yaitu bila ketuban pecah, pembukaan sudah lengkap, posisi kepala janin sudah di dasar panggul, dan janin dalam keadaan hidup.

Alat ini penting digunakan, supaya bayi kepala dapat terjepit di antara tulang-tulang panggul ibu.

Jika sampai terjadi efeknya kepala terlihat lebih panjang karena adanya cairan di kulit kepala.

Tapi akan kembali seperti semula. Cairan yang ada di bawah kulit tersebut akan diserap tubuh.

Berikut langkah-langkah penggunaan vakum:

1. Bagian dari alat vakum ekstraktor dipasang kup atau mangkuk, lalu dimasukkan ke vagina dan langsung diletakkan pada bagian terbawah kepala janin.

2. Ekstraktor vakum dipompa sampai menjadi hampa udara 0,2 kg/cm2, ditunggu selama 2 menit.

Selama menunggu dilakukan pemeriksaan kembali untuk mengetahui apakah letak kup sudah benar dan tak ada jalan lahir yang terjepit.

Kemudian tekanan dinaikkan sampai 0,4 kg/cm2 dan ditunggu 2 menit lagi, setelah itu dinaikkan lagi sampai 0,6 kg/cm2 hingga membentuk kaput (benjolan yang mengisi kup).

3. Agar pinggir cup tidak lepas, dilakukan traksi sewaktu his datang dan si ibu diminta mengedan.

Mengenai kekhawatiran penggunaan alat bantu vakum dapat membuat anak menjadi bodoh kelak, ini cuma mitos belaka!

Justru bayi akan terselamatkan jika persalinan dikerjakan secara tepat oleh ahlinya.

Jika dokter tak punya alternatif lain, maka tanpa alat bantu, persalinan itu malah akan membahayakan si bayi.

Alat bantu persalinan forsep

Forsep berupa alat logam menyerupai sendok.

Alat bantu persalinan ini dipasangkan pada kepala janin seperti mencapit, kemudian kepala akan ditarik keluar.

Tindakan forsep diperlukan pada kondisi ibu sudah mengejan tapi janin tak kunjung lahir.

Efeknya, tampak bekas alat tersebut pada bagian wajah bayi, namun nantinya akan hilang sendiri.

Penggunaan alat bantu persalinan

Menggunakan dua alat ini dapat dilakukan pada proses persalinan yang disebut kala 2, yaitu bila kepala janin sudah berada di panggul.

Nah, pada situasi kala 2 ini harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu, biasanya paling lama 1 jam.

Soalnya, kepala bayi sudah berada di dasar panggul jadi dia harus dikeluarkan.

Bila kondisi itu berlangsung terlalu lama misalnya karena ibu mengalami kelelahan atau kontraksi malah berkurang/lemah, justru bisa berdampak buruk pada bayi.

Ia bisa “terjepit” sehingga mengalami sesak napas.

Lantaran itu, perlu mempercepat proses kala 2 tersebut dengan cara dibantu menggunakan alat.

Jadi dilakukan dengan vakum yaitu menarik kepala janin dengan cara disedot, atau dengan cara forsep yaitu memegang kepalanya lalu ditarik.

Untuk diketahui, penggunaan dua alat bantu persalinan tersebut, vakum atau forsep, tidak akan mengganggu rahim/risiko perobekan rahim karena posisi kepala sudah di panggul.

Meski demikian, tidak dapat dikatakan pemakaian vakum dan forsep lebih aman daripada induksi terhadap risiko terjadi robekan rahim. Sebab berbeda konteks.

Kalau induksi, dilakukan saat memulai proses persalinan sehingga timbul kontraksi.

Jadi, posisi janin masih di dalam rahim.

Sedangkan vakum ataupun forsep, tindakan membantu melahirkan dengan posisi janin sudah berada di dasar panggul.

Meski sudah berada di dasar panggul, persalinan spontan/normal pun dapat menimbulkan risiko robek rahim, bila kondisi rahim ibu pernah disesar mengingat titik lemahnya tetap berada di sana.(*)