Ilustrasi: amp.kompas.com/lifestyle
Ilustrasi: amp.kompas.com/lifestyle

Ilustrasi: amp.kompas.com/lifestyle

"Ibu, kemarin dan hari ini aku nggak teriak-teriak lagi di sekolah," cerita si sulung saat saya pulang kerja.

Memang anak saya termasuk anak yang sensitif. Dijuluki macam-macam, diejek cita-citanya bisa membuatnya ngambek. Ngambeknya bukan sembarang ngambek.

Itu yang membuat saya lumayan pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, dia sering mau ke rumah simbahnya (dari bapak) yang rumahnya cukup jauh. Tanpa pamit. Itu sering dia lakukan.

Tak hanya di rumah. Di sekolahpun begitu. Sering keluar kelas ketika masih jam pelajaran. Alasannya sepele. Ya, seperti diejek cita-citanya.

"Lha kamu dan teman-temanmu ditanya apa sama pak guru?" Tanya saya penasaran.

"Pak guru tanya cita-cita. Terus pas aku bilang cita-citaku, eh…diejek," terang si sulung. Terlihat matanya berkaca-kaca.

"Kamu jawab apa emangnya?" Selidik saya.

"Desainer," jawab si sulung dengan singkat.

Saya jelaskan kepada si sulung bahwa dia tak perlu dengar ucapan teman-teman.

"Mereka mengejek itu karena nggak tahu, desainer itu apa. Kamu jelaskan saja ke temanmu yang mengejek. Desainer itu begini…begini…" buliknya urun nasehat.

"Bener ucapan bulik. Ibu saja mendukung kamu kok. Mau jadi apa saja terserah. Kecuali kalau ibu bilang, kamu nggak boleh jadi desainer, kamu marah dan ngambek itu wajar."

Saya hela napas panjang. Saya tatap mata bening yang berkaca-kaca itu. "Yang penting kamu rajin shalat, ngaji, jadi anak shalihah. Itu yang ibu harapkan. Jadi nggak perlu ngambek. Terus meninggalkan kelas. Nggak boleh. Itu nggak sopan. Jangan diulangi lagi ya, nak."

Si sulung jadi menangis. Pipinya basah. Antara tega dan tidak tega, saya dan Bulik serta Simbah (dari ibunya) menasehati.

***

Tak terasa tinggal beberapa hari si sulung akan menempuh ASPD. Hari Senin sampai Rabu.

Alhamdulillah sebelum ASPD, si sulung lancar dalam melalui ujian praktik, ujian sekolah. Harapan saya sebagai ibunya, si sulung bisa mengerjakan soal dengan mudah. Saya hanya bisa mendoakan.

Selain itu, saya juga berharap dan berdoa agar si sulung bisa lebih tahan mentalnya. Apalagi dia akan melanjutkan ke Pondok Pesantren.

"Kamu di pondok sudah nggak diawasi ibu, bapak, Bulik, budhe, Simbah lho, nak. Jadi kamu belajar kuat. Kalau ada yang nggak sesuai dengan keinginanmu, jangan sering ngambek. Marah boleh, tapi jangan lantas mau pergi tanpa pamit. Kamu jaga diri."

Anggukan di antara sesenggukan tangisnya, membuat saya sedikit tak tega.

***

"Ibu, dulu teman-teman ibu juga nggak suka sama ibu ya?"

Saya memang sering bercerita kalau pas sekolah, hampir semua teman mem-bully. Yang jelas, nangis-nangis dan ngambek. Tapi ngambeknya nggak sampai mau pergi.

"Dulu ibu sama Bulik ngambeknya itu nggak mau sekolah. Itu karena takut dibully."

Angan saya menerawang jauh ke masa kecil. Ternyata bully mem-bully sudah ada sejak dulu. Tetapi saya tekankan kepada si sulung, justeru itulah yang akan membuat manusia lebih kuat dan sukses.

Penulis : Zahrotul Mujahidah