Sumber foto: Gramedia.com
Sumber foto: Gramedia.com

Sumber foto: Gramedia.com

Alkisah, ada seorang perempuan bernama Naira yang baru saja menikah. Usianya 38 tahun saat hari itu. Sedang lelaki yang sah menjadi suaminya lebih tua setahun. Mereka merayakan pernikahan yang sederhana dengan gembira serta penuh syukur.

Anggota keluarga, kerabat, teman, maupun orang-orang yang hadir turut memberi doa-doa dan pengharapan terbaik untuk keduanya.
Di antara warga kampung, pernikahan itu adalah yang paling ditunggu-tunggu sekaligus paling tidak disangka. Selain juga itu menjadi pernikahan yang membuat tidak sedikit pasangan suami istri menjadi iri.

Rasa iri dalam konteks yang tidak buruk tentunya.
Pernikahan mereka tak salah jika sampai bikin banyak orang iri. Ia yang berlandas keyakinan tingkat tinggi, ilmu yang memadai dan uluran doa-doa rupanya bisa bertahan hingga keduanya memasuki usia sepuh. Warna ceria di hari ijab kabul tak luntur oleh waktu.

Dari rahim rumah tangga keduanya lahir anak-anak terbaik di kampung itu, puluhan cucu yang pintar dan soleh soleha menurun bak air.
Usia keduanya masing-masing nyaris 90 tahun kala takdir juga yang datang memisahkan menjadikan Naira menjanda di usia yang amat tua. Lalu tak jua berselang setahun ia pun menyusul sang suami untuk menggenapkan kehidupan dunianya.
Setengah abad melenggang berdua di atas roda waktu tak serta merta mereka jalani tanpa onak dan duri. Kerikil-kerikil bahkan seiring memaksa mereka untuk sejenak melonggarkan langkah namun tak sampai tertatih.
Rentetan ujian dalam pernikahan dihadapi dengan cakap. Bertimbun bekal yang dibawa semenjak muda menuntun mereka bisa lebih tegar menghadapi badai, kuat menahan hujan, dan terlampau lapang untuk setiap kenikmatan yang hadir.
Setiap anak yang lahir dari keduanya tumbuh di bawah atap madrasah terbaik yang mereka rancang sendiri serta kurikulumnya disusun sejak jauh hari. Anak-anak mereka mendewasa dengan tuntunan paling elok dari tangan-tangan yang bijaksana.


Bertahun-tahun lamanya Naira adalah perempuan lajang yang menghabiskan lebih banyak waktunya sebagai warga kampung dengan berbagai aktfitas. Ia aktif di bidang sosial dan terjun di ranah pendidikan kampungnya untuk memberi banyak partisipasi.
Di kala usia memasuki gerbang kedewasaan ia mulai melihat satu demi satu teman perempuannya dijemput laki-laki asing untuk hidup bersama. Tak terbilang berapa kali pemandangan prosesi pernikahan teman sendiri ia saksikan.

Tak terhitung jua berapa undangan resepsi nikah teman-teman dan kerabat yang mampir di teras rumah atas namanya sendiri dan ia cuma datang memenuhinya satu demi satu bersama bapak dan ibunya.
Silang pertanyaan dan singgungan pun pelan-pelan melayang padanya. Atau pada dua orang tuanya. Ini perihal kapan ia baru akan menikah.
Saat usianya 25 pertanyaan kapan menikah itu datang seperti air bah dari lautan. Tapi ia tetap tenang. Juga pertanyaan siapa laki-laki yang menjalin kasih dengannya pun kerap membuat penasaran orang-orang.

Dan seperti pada umumnya, rasa penasaran manusia memang tak pernah konsisten dan sangat sedikit yang bisa panjang umur. Orang-orang itu memilih diam dan tak lagi bertanya serta mencari-cari tahu.
Menjelang usia 30 adalah masa kritis bagi perempuan menurut anggapan banyak kalangan jika yang bersangkutan belum juga menikah. Rasa penasaran orang-orang tadi kemudian bersalin menjadi kecurigaan.
Naira masih tetap seperti biasa. Urusan mengenai jodoh ia simpan rapat-rapat dalam dirinya dan cuma ia buka lebar bersama doa-doa saat di hadapan Sang Maha cinta. Dua orang tuanya pun tetap santai-santai saja saat anak perempuan mereka menginjak usia 31.

Mereka cuma sesekali saling menatap tapi diam-diam juga tak pernah tertinggal untuk mendoakan jalan terbaik.
Laki-laki di kampung itu saban tahun banyak yang menikah. Namun belum pernah ada satu orang pun yang datang ke rumah mereka hendak melamar. Satu demi satu orang pulang dari perantauan untuk menikahi perempuan desa tapi ia selalu terlewat.

Orang-orang di sekitar mulai terbiasa melihat Naira yang belum juga menikah.
Ia bukan tinggal diam saja melihat situasi itu. Menceritakan ke orang luar tak pernah jadi pilihannya. Ia cuma bisa terus berdoa. Bila kehendaknya memang akan menikah ia pasti menikah. Ia percaya ia cuma harus sabar. Dan tak lelah menggantungkan doa di langit.

Ia tak sampai hati kalau harus berkeluh kepada teman atau tetangga perihal masalah itu. Semua akan terjawab pada waktunya kelak.
Pada dunia yang sama seorang lelaki sedang berpikir keras bagaiamana Tuhan akan mempertemukan ia dengan perempuan yang baik-baik dan soleha. Laki-laki ini juga berasal dari kampung yang sama dengan Naira.

Ia cuma karena ikut orang tua merantau sejak kecil sehingga tak tampak nyata sebagai orang kampung itu. Terlebih mereka mungkin hanya pulang untuk setiap 5 tahun yang tak pasti juga.
Dalam satu kesempatan, laki-laki itu merasa bahwa di antara banyak tempat yang ia sudah datangi cuma di kampung merekalah yang selalu ia lalui begitu saja soal pencariannya terhadap sang jodoh.
Ia yang tak berhenti berdoa lalu sekali waktu mengumpulkan ayah dan ibunya di sebuah malam. Di hadapan orang tuanya ia berkata dan merasa yakin kalau perempuan yang akan ia peristri nanti adalah orang sekampung mereka.
"Siapa," tanya sang ibu di rapat kecil mereka.
Lagi pula kebiasaan tak pulang dalam waktu yang lama membuat mereka seperti punya jarak dengan orang-orang kampung.
"Kalau begitu kita akan pulang secepatnya dan cari orang itu," ucap sang ayah penuh gairah. Ia begitu yakin kalau anaknya tak sembarang yakin.
Mereka bertiga seminggu kemudian sudah berada di kampung. Cuma lelaki itu anak mereka yang belum juga menikah.
Tiba di kampung mereka bertemu kerabat yang lain yang juga tokoh masyarakat saudara dari ayah laki-laki itu. Tanpa lagi bercerita panjang lebar mereka semua langsung paham apa yang sedang terjadi.

Si kerabat itu terdiam beberapa saat sampai ia kembali bersuara dengan semangat.
"Cocokmi kalau dengan yang ini. Perempuan baik-baik. Dari keluarga baik-baik. Insya Allah serasi." Katanya dengan raut wajah percaya diri.
Tak mengulur terlalu banyak waktu mereka bikin pertemuan kembali. Si kerabat tadi berkat ketokohannya ia datang ke rumah orang tua Naira dan menyampaikan maksud dengan gagah berani. Keduanya kemudian diizinkan bertemu untuk sekadar saling mengenal.

Tapi si lelaki bersikeras bahwa ia hanya ingin melihatnya sekali saja untuk yakin ia bisa membina rumah tangga dengan perempuan dimaksud. Hal serupa juga terjadi pada Naira.
Setelah pertemuan singkat semua akhirnya sepakat. Pernikahan pun digelar. Sisanya adalah hamparan kisah bagaimana dua orang manusia itu mengawaki bahtera besar mengarungi lautan dunia.
Masa keemasan rumah tangga itu dibangun dari hasil merajut kesabaran, belajar dan doa-doa yang senantiasa dirapal setiap waktu.

Mengajarkan pada kita betapa pernikahan bukan tentang siapa yang paling cepat, siapa yang paling muda melainkan seberapa jauh kesiapan itu sendiri.
Tak ada kata terlambat dalam meraih kursi pernikahan. Jangan khawatir dengan omongan orang. Toh takdir tidak pernah bercanda. Bila seseorang ditakdirkan untuk punya pasangan maka takdir itu akan mendatanginya. Kita saja yang mesti membaikkan adab dalam menyambut takdir itu.

Penulis : Harun Anwar