CEO Lippo Karawaci John Riady (kedua kanan) didampingi Presdir PT Jurnalindo Aksara Grafika Lulu Terianto (kedua kiri), dan Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Hery Trianto (kanan), menjawab pertanyaan redaksi saat berkunjung ke kantor Bisnis Indonesia, di Jakarta, Selasa (19/3/2019)./Bisnis-Endang Muchtar
Lippo sebelumnya hanya dikenal sebagai grup perusahaan dengan ujung tombak bisnis properti, kesehatan, pendidikan, dan ritel modern. Praktis, hampir seluruh lini bisnis utama itu terbilang konvensional.

SIAPGRAK.COM, JAKARTA- Perkembangan teknologi digital tak lagi bisa dianggap sebelah mata. Hampir seluruh sendi kehidupan kini memanfaatkan kehadiran teknologi digital, mulai dari gawai pintar hingga komputasi awan menyediakan berbagai kemudahan bagi masyarakat.

Keyakinan inilah yang membuat Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady merancang transformasi konglomerasi tersebut. Lippo sebelumnya hanya dikenal sebagai grup perusahaan dengan ujung tombak bisnis properti, kesehatan, pendidikan, dan ritel modern.

Praktis, hampir seluruh lini bisnis utama itu terbilang konvensional. Melalui tentakel bisnis itu, Lippo Group ikut menyokong pembangunan ekonomi nasional. Setiap tahun Lippo Group melayani sekitar 60 juta penduduk Indonesia melalui berbagai layanan dan produk.

Persoalannya kemudian, singgasana itu tak luput dari gelombang digital yang semakin ke sini kian terasa. Kehadiran berbagai perusahaan rintisan, eksosistem bisnis digital, serta penggunaan teknologi komputasi awan seolah tak bisa dihindarkan oleh entitas bisnis manapun.

Di balik kesuksesan Lippo, ternyata penerapan teknologi digital perlahan menjadi pondasi penguatan konglomerasi yang didirikan Mochtar Riady tersebut. Inilah yang diusung John Riady selaku generasi ketiga penerus Lippo.

Secara sederhana, John menilai selama ini Lippo melayani penduduk dan masyarakat dari berbagai kalangan. Terutama, katanya, konsumen yang merupakan generasi penikmat pembangunan ekonomi pada milenium baru ini.

Mereka adalah keluarga yang tumbuh sejalan dengan perkembangan serta kemajuan di berbagai bidang, menikmati perjalanan ke luar negeri, yang berhasil menyekolahkan anaknya ke jenjang universitas, dan berbagai kemudahan lainnya. “Kami di Lippo menyertai kelahiran generasi ini, menjadi pelayan segmen the first ini,” kata John.

Sebaliknya, seiring pertumbuhan kelas sosial tersebut, membuka pula keniscayaan masa depan yang semakin dimanjakan dengan teknologi digital. Pandangan ini kemudian melecut Lippo Group merancang berbagai bisnis yang sepadan dengan jiwa zaman.

Strategi itu melahirkan berbagai produk properti bercita rasa milenial dan ramah lingkungan, hingga masuk lebih dalam sebagai salah satu penyokong modal berbagai usaha rintisan, serta merancang kolaborasi layanan berbasis offline dan online.

Di sisi lain, John menyadari perkembangan teknologi informasi dan digital saat ini masih tahap awal bagi Indonesia. Berkaca dari kondisi masyarakat yang selama ini dilayani Lippo Group, John menyimpulkan sejauh ini belum seluruhnya bisa meninggalkan banyak cara dan bisnis konvensional.

Singkatnya, John tidak serta merta membabi buta dalam menerapkan strategi bisnis. Jalan transisi lebih dipilih dibandingkan perubahan digital yang serba revolusioner.

Omnichannel adalah jawaban penting John Riady dalam menyegarkan layanan Lippo Group di tengah arus digitalisasi. Konsep ini bersandar pada kemampuan mengawinkan teknologi digital dengan layanan fisik.

“Contohnya untuk pasar ritel, yang paling besar di Indonesia masih pasar tradisional kira-kira 60%, sedangkan ritel modern itu seperti mal dan department store sebagainya itu kira-kira 30%. Sebaliknya pasar online kira-kira penetrasinya 10%,” simpul John.

Ke depan, seiring berjalannya waktu, pasar daring akan tumbuh lebih besar maupun pasar ritel modern secara fisik. “Tapi offline pun yang sekarang kira-kira 30%, tetep akan tumbuh menjadi 50-60%. Tentu yang akan berkurang seiring dengan kemajuan ekonomi dan sebagainya adalah pasar-pasar tradisional yang akan berubah menjadi modern mart,” kata John.

Dalam strategi investasi pun, John sepertinya mengamalkan pandangan tersebut. Tidak saja fokus memperkuat lini bisnis utama yang selama ini jadi andalan Lippo Group, konglomerasi itu di bawah John rajin menebarkan benih kepada banyak perusahaan rintisan.

“Kami mempunyai empat pilar investasi yang selalu diterapkan. Pertama, kami ikut mengembangkan bersama founder, kedua masuk ke dalam perusahaan yang telah matang [pra IPO], menjalin kemitraan, hingga mengawinkan dengan berbagai jaringan bisnis kami itu seperti terjadi di MPPA,” kata John.

Melalui lengan investasi Venturra Capital, Lippo tercatat ikut melahirkan RuangGuru, Grab, Sociolla, dan puluhan perusahaan rintisan lainnya. “Yang jelas, kami punya prinsip bahwa suatu perusahaan termasuk usaha rintisan, akan selalu hidup dan berkembang jika memiliki semangat mengusung solusi dalam permasalahan kehidupan. Ini sangat terbukti dari berbagai perusahaan rintisan yang bisa bertahan hingga sekarang, mereka menawarkan solusi kepada masyarakat,” tutup John.