Risiko infeksi hepatitis akut pada anak.

GridHEALTH.id – Hepatitis akut misterius membuat masyarakat, khususnya yang masih mempunyai anak-anak usia sekolah menjadi lebih waspada.

Sejak terdeteksi pada awal April di Inggris, penambahan kasus terus terjadi. Berdasarkan data, kurang lebih ada 436 kasus hepatitis akut yang terkonfirmasi di 27 negara.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI dr Mohammad Syahril, Sp.P, MPH mengatakan, di Indonesia per 17 Mei 2022 terdapat 14 kasus dugaan hepatitis akut di Indonesia.

Sebanyak 13 kasus merupakan pending classification, di mana 1 kasus di Sumatera Utara, 1 kasus di Sumatera Barat, 7 kasus di DKI Jakarta, 1 kasus di Jambi, dan 3 kasus di Jawa Timur.

Sedangkan 1 kasus probable pemeriksaan hepatitis A, B, C, dan E non reaktif, serta pathogen lainnya pun juga.

Usia rata-rata pasien hepatitis akut yakni 0-5 tahun sebanyak 7 orang, 11-16 tahun sekitar 5 pasien, dan 6-10 tahun 2 pasien.

Risiko infeksi ulang

Dari 14 kasus dugaan hepatitis akut, 6 pasien meninggal dunia, sedangkan 4 orang lain masih dirawat.

Terdapat juga 4 orang pasien dugaan hepatitis akut yang sudah dinyatakan sembuh dan diizinkan untuk kembali ke rumah.

“Ada 4 (pasien) yang sembuh, dipulangkan. Artinya dia memang sembuh, secara klinis tidak ada lagi keluhan dan secara laboratorium normal,” kata Syahril dalam keterangan pers, Rabu (18/05/2022).

Dia menegaskan, bahwa pasien hepatitis akut yang sudah sembuh tidak akan menulari penyakit tersebut kepada orang lain.

Akan tetapi, orangtua juga tetap perlu berhati-hati karena terdapat risiko reinfeksi atau anak terinfeksi hepatitis akut kembali.

“Sama dengan Covid-19 dulu, ‘Dok, apakah kalau sudah pulang apakah bisa terkena lagi?’ Bisa, ini juga bisa kalau ketemu lagi sumber penularannya,” jelasnya.

Oleh karena itu, pencegahan merupakan hal yang terpenting untuk dilakukan agar anak yang sudah sembuh pun tidak mengalami hepatitis akut.

Mencegah hepatitis akut

Syahril menjelaskan, gejala hepatitis akut yang paling sering terjadi di Indonesia adalah demam, dengan presentase 78%.

Disertai dengan gejala lain seperti nafsu makan hilang 78% dan muntah 71%. Sedangkan untuk jaundice atau penyakit kuning, berada di peringkat kelima dengan jumlah 57,1%.

“Untuk jaundice-nya di Indonesia cuma berapa persen itu. Padahal itu adalah gejala yang paling khas dari hepatitis akut,” ungkap Syahril.

Belum diketahui penyebabnya, adapun upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam mencegah hepatitis akut adalah dengan menerapkan pola hidup bersih sehat (PHBS).

Pastikan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, mengonsumsi makanan dan minuman yang dimasak matang sempurna, dan tidak berbagi alat makan.

Selain itu, hindari melakukan kontak dengan orang yang sedang sakit, menggunakan makser, dan menghindari kerumumanan.

Hal tersebut penting dilakukan, karena berdasarkan dugaan awal kasus hepatitis akut dapat menular melalui saluran pencernaan dan pernapasan.