Omicron Terus Membludak, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Tertahan di 3 Persen (FOTO:MNC Media)
Omicron Terus Membludak, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Tertahan di 3 Persen (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Membludaknya kasus Omicron menghantui pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini sedang pemulihan. 

Bahkan pemerintah sempat optimis di tahun 2022 ekonomi Indonesia bisa tumbuh sekitar 5%. 

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan pemerintah segera menyiapkan skenario terburuk apabila varian Omicron ini menjadi gelombang 3 pandemi covid 19. 

Sebab jika demikian menurutnya pertumbuhan Ekonomi Indonesia bisa tertahan di angka 3% sepanjang 2022. Jumlah yang bahkan lebih dari prediksi ekonomi tahun sebelumnya 2021 yang berada di angka 3,4%. 

"Pertumbuhan ekonomi bisa tertahan di level 3%, dan tentunya disamping Omicron ada inflasi dan kenaikan suku bunga yang membayangi pemulihan didalam negeri," ujarnya kepada MNC Portal, Jumat (14/1/2022). 

Virus omicron memang tidak memiliki dampak yang tidak terlalu parah, namun jika penyebaran dalam cakupan yang luas dan orang yang terpapar itu serentak maka akan membuat fasilitas kesehatan kembali kewalahan menampung pasien. 

Jika kasus yang muncul tingga maka pemerintah juga akan mengambil kebijakan pembatasan mobilitas kembali, yang sudah barang tentu akan membuat roda ekonomi menjadi macet. Sebab gerak ekonomi masyarakat juga akan terpengaruh. 

"Skenario terburuk harus diantisipasi dengan lakukan penambahan belanja disektor kesehatan, insentif usaha maupun bantuan sosial," sambung Bhima. 

Meski demikian itu merupakan skenario terburuk jika memang varian Omicron menjadi babak baru pandemi covid 19. Untuk itu sikap antisipatif saat ini cukup dibutuhkan agar pengalaman buruk sebelumnya tidak menjadi terulang. 

"Efeknya langsung dirasakan ke konsumsi rumah tangga, dimana Indeks Keyakinan Konsumen mengalami penurunan tajam bahkan bisa kembali dibawah level 100. Sementara pemulihan daya beli tertahan, sektor yang berharap 2022 lebih baik seperti transportasi dan pariwisata kembali mengalami koreksi tajam," pungkas Bhima.

(SANDY)