Ilustrasi pendidikan untuk anak. Foto:SHUTTERSTOCK/Photographee.eu via Kompas.com
Ilustrasi pendidikan untuk anak. Foto:SHUTTERSTOCK/Photographee.eu via Kompas.com

Ilustrasi pendidikan untuk anak. Foto:SHUTTERSTOCK/Photographee.eu via Kompas.com

Sebut saja namanya Ibu Diana. Ibu Diana memiliki tiga orang anak berusia remaja.

Di suatu waktu ibu Diana begitu terkejut ketika mendengar cerita dari anak sulungnya tentang anaknya laki-laki yang bungsu dan masih berusia 13 tahun.

Anak sulungnya bercerita jika dia pernah mendapatkan di phone adiknya bekas penelusuran konten dewasa.

Kakaknya begitu kaget. Adiknya yang terbentuk dalam iklim keluarga yang patuh dengan ajaran agama bisa melakukan hal itu.

Karena rasa kagetnya itu, dia menceritakan kepada mamanya. Mamanya juga kaget karena pada usia anak bungsunya dia sudah nekat mencari konten dewasa. Juga, anak bungsunya itu terbilang anak yang patuh, rajin mengikuti kegiatan di rumah ibadah, dan cenderung bertipe pendiam.

Pelbagai pertanyaan berkecamuk. Salah satunya siapa yang telah mempengaruhi anak bungsunya?

Mengapa anak bungsunya yang rajin terlibat kegiatan keagamaan bisa ingin mencari hal yang belum cocok dengan usianya?

Sebagai orangtua, ibu Diana terlihat belum siap menerima situasi yang terjadi pada anak bungsunya.

Namun, di lain pihak sisi perkembangan anak yang juga diwarnai perkembangan teknologi saat ini patut dipertimbangkan.

Di tengah usia anaknya yang masuk pada masa-masa awal pubertas, dia perlu dipantau agar bisa diarahkan.

Hemat saya, dua hal yang perlu dibangun orangtua agar anak tak semakin terjebak pada perilaku yang salah, terutama perihal kehidupan seksnya.

Pertama, Orangtua perlu berani memberikan edukasi seks.
Sangat sulit dihindari jika anak-anak saat ini bisa gampang melihat konten dewasa di tengah perkembangan media sosial. Banyak postingan yang bisa dijumpai di media sosial yang bisa memantik rasa ingin tahu anak, termasuk soal seks.

Pada titik ini, orangtua patut menjadi agen yang bisa mengarahkan anak dalam menghadapi gempuran perkembangan jaman.

Maka dari itu, orangtua perlu mengenal tahap-tahap perkembangan anak. Anak bertumbuh dan melewati fase tertentu.

Di tengah situasi seperti itu, orangtua perlu mengantisipasi perubahan tingkah laku anak. Apabila perubahan tingkah lakunya berjalan dalam kewajaran, orangtua tak boleh menjadi sosok pengontrol apalagi sebagai sosok yang mengkungkung. Orangtua bisa menjadi aktor pendukung apabila perubahan tingkah lakunya mengarah pada hal-hal yang positif.

Namun, saat tingkah laku anak sudah berseberangan, orangtua perlu mengambil sikap.

Misalnya kasus yang menimpa ibu diana yang mengetahui anaknya menonton konten dewasa.

Pada titik ini, orangtua berani memberikan pelajaran kepada anak tentang apa yang mesti dilakukan, termasuk apa yang perlu dihindari.
Tak gampang untuk menjelaskan tentang dunia seks pada anak. Orangtua bisa berlandaskan pada ajaran agama dan aturan moral.

Misalnya, ajaran dalam agama Kristen Katolik yang menggarisbawahi seks sebagai hal yang sakral dan hanya diperbolehkan untuk pasangan suami-istri. Saya kira ajaran ini juga berlaku untuk agama-agama lain.

Landasan ajaran agama seperti ini bisa menjadi salah satu bahan dalam mengarahkan pikiran anak.

Pendeknya, orangtua perlu juga belajar perkembangan anak dan edukasi tentang seks. Tak boleh melihat hal itu semata-mata sebagai hal yang normal.

Tak bisa dielak jika gempuran perkembangan media sosial ini memungkinkan anak bisa mengakses banyak hal, termasuk konten dewasa. Di tengah gempuran itu, orangtua juga perlu meningkatkan kemampuan mereka dalam memberikan edukasi pada anak.
Kedua, Berupaya masuk dalam dunia anak.
Menyelami dunia anak taklah gampag. Selain karena gap usia, dinamika situasi dan jaman juga sangat menantang orangtua masuk dalam dunia anak.

Mau tak mau, orangtua mesti belajar agar bisa masuk ke dalam dunia anak. Ada pelbagai macam bahan yang bisa diperoleh di internet atau pun lewat buku tentang bagaimana belajar dunia anak.

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah mau berteman dengan anak di media sosial. Berkomentar tentang konten yang dimiliki oleh anak bisa menjadi saja untuk membangun interaksi.

Keakraban di media sosial juga perlu dibangun dalam koridor yang tepat. Dalam mana, orangtua tak tampil sebagai sosok yang mengatur atau pun memerintah, tetapi teman di ruang lingkup media sosial.

Dunia media sosial sangat berbeda dengan aturan di dalam rumah. Makanya, orangtua juga perlu tahu memosisikan diri dalam memberi komentar dan berelasi di media sosial dengan anak.

Selain itu, apabila ada kejanggalan dan hal-hal yang tak berkenan dengan postingan anak di media sosial, orangtua perlu berani memberikan nasihat secara langsung daripada lewat memberikan nasihat di media sosial.

Kadang kala anak bisa tersinggung ketika orangtua memberikan nasihat di media sosial. Apa salahnya anak dipanggil dan dimintai keterangan secara langsung tentang apa yang dimuatnya di media sosial.

Memang tak gampang untuk masuk ruang anak. Akan tetapi, itu menjadi salah satu cara orangtua belajar dan sekaligus mengajari anak agar tak terjebak pada jalan dan pergaulan yang salah.

Perkembangan anak jaman ini diwarnai pelbagai tantangan. Di tengah situasi ini, orangtua mestinya tahu bersikap.

Sikap orang menjadi bijak apabila sudah dibekali oleh pengetahuan yang cukup tentang apa yang mesti dilakukan ountuk anak.

Salam

Penulis : Gobin Dd