Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto. Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Eks juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, meninggal dunia. Ia meninggal di Malang, Jawa Timur.

Kabar ini dikonfirmasi Jubir Kemenkes untuk Presidensi G20, Siti Nadia Tarmizi.

"Iya, wafat jam 18.58," kata Siti Nadia saat dikonfirmasi, Sabtu (21/5).

Pria yang akrab disapa Yuri itu sempat dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta karena menderita kanker usus lalu menderita stroke. Kemudian, keluarga memutuskan untuk membawanya ke Malang agar dirawat di kampung halaman didampingi keluarga.

Yuri dibawa ke Malang pada 19 Mei yang lalu. Ia menjalani perawatan lanjutan di RSUD Malang.

Nama lengkapnya Kolonel CKM (Purn.) dr. Achmad Yurianto, M.A.R.S. Ia lahir pada 11 Maret 1962 di Malang, Jawa Timur.

Sebelum pandemi corona diumumkan di Indonesia, Yuri merupakan Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Kementerian Kesehatan (Ditjen P2P Kemenkes).

Ketika pandemi terdeteksi pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi langsung menunjuk Yuri sebagai jubir penanganan COVID-19.

Saat itu, ia mengumumkan data terkait kasus corona yang ditayangkan langsung televisi. Tak lupa imbauan untuk menaati protokol kesehatan selalu didengungkan.

Kemunculannya di layar TV setiap sore membuat Yuri menjadi sosok yang populer.

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto. Foto: BNPB

Saat menjadi jubir corona, Yuri ternyata juga naik pangkat menjadi Dirjen P2P Kemenkes. Ia dilantik pada Senin (9/3/2020) oleh Terawan.

Sebagai Dirjen P2P, Yuri bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Setelah dilantik, ketika itu ia langsung menyoroti program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang digalakkan pemerintah.

Sembari menjabat Dirjen P2P, setiap pukul 15.30 WIB lewat tayangan langsung, Yuri tak henti-hentinya mengungkapkan bahwa Indonesia mampu memutuskan mata rantai penularan corona dengan jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir. Dokter Reisa kemudian masuk tim, tampil berduet dengan Yuri.

dr Reisa bersama Dirjen P2P Kemenkes Achmad Yurianto. Foto: Instagram/@reisabrotoasmoro

Pada 21 Juli 2020, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan Yuri tak lagi jadi jubir. Posisinya digantikan Ketua Tim Pakar Satgas COVID-19 Profesor Wiku Adisasmito.

"Jubir pemerintah di sini adalah ditunjuk Prof. Wiku Adisasmito dari BNPB dan Pak Budi Gunadi Sadikin khusus untuk satgas ekonomi," kata Airlangga di Jakarta, Selasa (21/7/2020).

Penunjukan Wiku ini memang terkait perubahan struktur, semula Gugus Tugas, berubah menjadi Satuan Tugas (Satgas). Kemudian ada pembagian, Satgas untuk penanganan COVID-19 dan Satgas untuk pemulihan ekonomi.

Ketika tak menjadi jubir corona, Yuri jarang muncul di hadapan publik. Ia sesekali hanya berbicara di diskusi atau webinar soal COVID-19.

Achmad Yurianto dilantik menjadi Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi pada Jumat (23/10). Foto: Kemkes RI

Pernyataan Yuri terakhir sebagai Dirjen P2P adalah soal rencana pembelian vaksin corona oleh pemerintah.

"Kalau seandainya segitu banyak [vaksin.

Saat meninggal dunia, Yuri masih menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi.

Sebelum berkarier di pemerintahan, Achmad Yurianto merupakan dokter kelahiran alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga angkatan 1990 yang juga pernah menjabat sebagai Komandan Resimen Mahasiswa Universitas Airlangga tahun 1986-1988.

Lulus kuliah, Yuri kemudian masuk militer. Dia menjabat sebagai Perwira Utama Kesehatan Daerah Militer V Brawijaya pada 1987. Ia juga sempat menjabat sebagai Kepala Kesehatan Kodam Pattimura dan memimpin Batalyon Kesehatan Kostrad.