Shutterstock/mi_viri
Ilustrasi kanker ovarium, gejala kanker ovarium, ciri-ciri kanker ovarium

SIAPGRAK.COM - Kanker ovarium disebut sebagai pembunuh senyap (silent killer) karena meningkatkan risiko kematian bagi perempuan yang mengalaminya.

Berdasarkan data Globocan 2020, tercatat 14.896 kasus baru kanker ovarium dengan angka kematian 9.851 setiap tahunnya di Indonesia.

Hal tersebut membuat kanker ovarium menempati urutan lima teratas dari kanker yang khusus terjadi pada perempuan.

Bahkan, penelitian lainnya menunjukkan bahwa satu dari 78 wanita berisiko menderita kanker ovarium dalam hidup mereka.

Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), Dr dr Brahmana Askandar SpOG(K), K-Onk, berkata bahwa sebutan kanker ovarium sebagai pembunuh senyap atau silent killer itu bukan tanpa alasan.

Pasalnya, penyakit ini sering kali tidak memiliki gejala khas yang dapat diidentifikasi atau disadari secara langsung.

"Kanker ovarium merupakan salah satu kanker yang dikenal sebagaisilent killer bagi kaum perempuan karena penyakit tersebut tidak menunjukkan gejala apapun di stadium awal," kata Brahmana dalam diskusi daring bertajuk Kampanye 10 Jari, Kamis (13/1/2022).

Lebih lanjut, Brahmana mengatakan, hanya 20 persen dari kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium awal.

Sementara itu, kurang lebih ada sekitar 26 wanita yang meninggal dunia setiap harinya karena penyakit kanker yang satu ini, karena kebanyakan pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi tumor ganas stadium lanjut.

Dengan begitu, kata Brahmana, menjadi hal penting untuk dapat menemukan tumor ganas yang menyerang ovarium ini lebih dini. Sebab, 94 persen pasien dapat hidup lebih dari 5 tahun setelah didiagnosis saat kanker baru stadium awal.

"Musuh utama dari kanker ovarium adalah kekambuhan karena sebagian besar ditemukan tidak dalam stadium dini," kata Brahmana.

Apa itu kanker ovarium?

Ovarium merupakan sepasang organ pada sistem reproduksi perempuan yang salah satu fungsinya adalah sebagai tempat pematangan sel telur. Ovarium terletak di pelvis rongga bagian bawah perut.

Nah, sel kanker berbeda dengan sel normal pada beberap hal, yaitu sel kanker berkembang secara tidak terkontrol, dapat tumbuh atau menginvasi jaringan lain sehingga tidak jarang ditemukan  menginvasi tuba fallopi dan rahim dan dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui pembuluh darah atau pembuluk limfatik.

Saat sel kanker ini sudah menginvasi organ tubuh lainnya, pada umumnya tumor ganas tersebut sudah berada di fase stadium lanjut, seperti 3 atau 4.

Kanker ovarium masih bisa diberikan pengobatan, tetapi taraf angka harapan hidup juga bergantung pada stadium kanker yang diderita, serta kondisi penyakit lainnya yang diderita pasien.

Semakin tinggi stadium kanker tersebut, maka akan semakin kecil pula angka harapan hidupnya. Namun, bukan berarti tidak ada peluang untuk hidup.

Untuk itu, kata Brahmana, yang paling penting adalah mencoba mencegah atau mengidentifikasi sejak dini kanker ovarium ini pada perempuan.

Tanda dan gejala kanker ovarium

Meskipun cukup sulit untuk mengidentifikasi gejala khas dari penyakit kanker yang satu ini, Brahmana menegaskan perlunya mengetahui tanda dan gejala yang harus dicurigai sebagai alasan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.

Jika beberapa dari tanda dan gejala di bawah ini ada pada diri Anda, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter ahli.

"Ya periksa aja dulu, kalau benar itu kanker bisa segera diobati. Kalau itu bukan (kanker ovarium) juga lebih baik, jadi bisa tenang kalau tahu penyebab gejala atau tanda yang ada itu apa," ujarnya.

Untuk diketahui, tanda merupakan kondisi objektif yang dapat diidentifikasi oleh orang lain, sedangkan gejala adalah kondisi subjektif yang dapat dirasakan pasien.

Brahmana menjelaskan, beberapa tanda dan gejala berikut bersifat tidak spesifik dan dapat juga dirasakan oleh perempuan tanpa kanker ovarium karena kondisi lainnya. Namun, tetap membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah tanda dan gejala di bawah ini adalah kanker ovarium atau penyakit lain.

"Ya ini karena gejala kanker ovarium itu sebenarnya tidak khas, pada stadium dini atau awal malah kebanyakan tidak ada gejala. Tapi wanita mulai harus curiga dan periksalah kalau mengalami beberapa tanda dan gejala ini terlalu sering," ucap dia.

1. Perut kembung

2. Nyeri panggul atau perut

3. Sering buang air kecil

4. Nafsu makan berkurang

Faktor risiko kanker ovarium

Jika Anda merasakan beberapa atau bahkan semua tanda dan gejala itu, maka akan dicari tahu juga apakah Anda memiliki beberapa faktor risiko pemicu kanker ovarium ini.

Brahmana menambahkan, kecurigaan terhadap potensi seorang perempuan menderita kanker ovarium akan semakin tinggi jika wanita tersebut merasakan beberapa tanda dan gejala, juga disertai memiliki beberapa faktor risikonya.

Adapun, faktor risiko penyakit kanker ovarium yakni:

1. Wanita usia lanjut

2. Angka kelahiran yang rendah

3. Riwayat kanker ovarium pada keluarga

4, Gaya hidup buruk

5. Riwayat kista endometriosis

6. Mutasi genetik

Untuk pasien perempuan yang memiliki tanda dan gejala, serta faktor risiko di atas, maka dokter ahli akan segera melakukan skrining, pemeriksaan patologi, pemeriksaan pelvis dan abdomen, imaging test dan pemeriksaan lainnya yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis secara akurat.

Penulis : Ellyvon Pranita Editor : Shierine Wangsa Wibawa