7 Fakta Dami Mission, Sekte Rapture yang Mengguncang Korea Tahun 1992

Belakangan ini, drama Korea Hellbound yang bercerita tentang sekte ajaran agama baru Saejinrihwe mulai menarik perhatian banyak orang. Mungkin, kamu bertanya-tanya, apakah benar ada sekte-sekte yang berkembang dan dianggap sesat oleh sebagian orang di Korea Selatan?

Jawabannya adalah ada. Sebelum gerakan agama baru Shicheonji di awal tahun 2020 menggegerkan publik karena menjadi kluster penyebaran virus COVID-19 di Korea Selatan, kehadiran sekte dari gereja Dami Mission tahun 1992 pun pernah menjadi fenomena luar biasa yang berhasil mengguncang Negeri Ginseng.

Para jemaatnya rela meninggalkan pekerjaan mereka, berhenti sekolah, hingga mengaborsi janin yang masih berada dalam kandungan. Bahkan, menurut informasi di episode "지상 최대의 인간 증발 - 휴거 1992 atau "Earth's Largest Human Evaporation - Rapture 1992" program Kkokkomu milik SBS, diketahui jika ada jemaat yang meninggal dunia karena melakukan ritual puasa selama 40 hari.

Hal-hal tadi rela mereka lakukan karena mengimani kepercayaan tentang "Hari Pengangkatan" yang diprediksi oleh seorang pendeta di Korea Selatan. Kegilaan akan Hari Pengangkatan ini tak hanya heboh di dalam negeri, tapi juga menarik perhatian sejumlah negara di luar Korea Selatan.

1. Buku "skenario akhir hidup manusia" jadi awal mula

Tak ada asap jika tidak ada api. Kegilaan tentang Hari Pengangkatan ini dimulai dari sebuah buku berjudul Prepare for the Coming Days yang ditulis Lee Jang Rim. Buku tersebut bak sihir yang membuat orang percaya, bahwa sudah ada skenario hidup manusia yang diatur seperti yang tertera dalam buku tersebut.

Saat dimulainya invasi Perang Teluk I yang terjadi pada 17 Januari 1991, banyak orang di Korea Selatan yang semakin percaya tentang datangnya Hari Pengangkatan tersebut dan berbondong-bondong datang ke toko buku. Alhasil, buku Prepare for the Coming Days pun laris manis di pasaran. Bahkan, buku tersebut mampu menduduki posisi nomor satu dan menjadi best seller untuk kategori agama.

Tak sampai di situ. Selebaran atau brosur tentang akan terjadinya Hari Pengangkatan pun dibagikan oleh sekelompok orang di alun-alun stasiun Seoul, kawasan Myeong-dong, terminal bus ekspres, hingga kereta bawah tanah pada tahun 1992. Brosur dan orang-orang yang membagikan tadi mengajak masyarakat untuk bergabung ke sekte mereka dan mempercayai datangnya Hari Pengangkatan yang sudah di depan mata.

2. Sosok pendeta Lee Jang Rim

Lee Jang Rim adalah sosok pendeta yang pertama kali menyebarkan teori tentang Hari Pengangkatan. Hari Pengangkatan tersebut dikenal dengan sebutan "휴거" (re: hyugeo) dalam bahasa Korea.

Hyugeo sendiri adalah masa di mana Yesus sebagai juru selamat akan kembali pada hari penghakiman dan harus mengangkat para umatnya ke surga. Menurut Lee, orang-orang yang akan diangkat hanyalah mereka yang terpilih saja.

Lantas, bagaimana nasib mereka yang bukan "orang-orang pilihan" tadi? Menurut Lee, tahap pertama dari suatu hari akhir adalah pengangkatan satu miliar orang di dunia pada waktu yang bersamaan, yakni pada tanggal 28 Oktober 1992, tepat pada pukul tengah malam waktu KST (Korean Standard Time).

Kedua, datangnya 7 tahun masa kesulitan. Menurut teori yang disebarkan Lee dalam bukunya, Perang Dunia III akan terjadi dan seluruh dunia jatuh ke tangan orang-orang anti-Kristus. Selama 7 tahun itu juga akan terjadi pembataian dari para anti-Kristus dan sebanyak 5 miliar orang akan mati karena penyakit hingga bencana alam.

Dengan kata lain, seluruh manusia akan musnah dan orang-orang yang tidak diangkat ke surga pada Hari Pengangkatan harus tetap tinggal di Bumi untuk menderita sebelum akhirnya meninggal dunia.

3. D-39: Tindakan preventif dan ditemukannya obligasi yang akan jatuh tempo

Merebaknya teori tentang Hari Pengangkatan pun sangat meresahkan masyarakat dan pemerintah setempat pada saat itu. Penyelidikan internal pun dimulai, tapi hambatan terus saja terjadi.

Ini disebabkan oleh para jemaat melakukan ibadah secara sukarela dan tanpa paksaan. Selain itu, mereka juga memberikan harta benda kepada sanak keluarga lainnya secara sadar. Inilah yang akhirnya menyulitkan kejaksaan untuk terus menyelidiki kasus yang ada.

Akhirnya, pada tanggal 22 September 1992, tepat 39 hari sebelum Hari Pengangkatan, Lee Jang Rim ditangkap atas tuduhan kasus penipuan. Dalam penyelidikannya, jaksa menemukan aliran uang sumbangan dari para jemaat yang memang diterima oleh rekening pihak gereja. Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut uang tersebut juga masuk ke rekening pribadi milik Lee Jang Rim. Saat itu, jumlah uangnya sekitar 3,4 miliar won atau Rp41 miliar (kurs Rp12.07).

Selain itu juga ditemukan bukti mengejutkan, yakni surat obligasi yang akan jatuh tempo pada tanggal 22 Mei 1993. Namun, pendeta Lee Jang Rim menyangkal jika uang 3,4 miliar won itu akan digunakan untuk melunasi utang. Ia mengatakan, jika dana tersebut disiapkan untuk menghadapi tujuh tahun masa kesulitan bagi mereka yang "tertinggal" di Bumi.

4. Makin banyak yang percaya, cabang gereja pun didirikan hingga ke luar negeri

Lee Jang Rim berhasil menyebarkan teori Hari Pengangkatan ke seluruh penjuru Korea Selatan. Teori tentang terjadinya hari akhir dan pengangkatan manusia ke surga tersebut juga telah terdengar hingga ke luar Korea Selatan. 

Dalam episode "Earth's Largest Human Evaporation - Rapture 1992" program Kkokkomu di SBS, dalam empat tahun berdiri ada 92 cabang gereja di Korea dan sekitar 40 cabang di luar negeri. Setidaknya juga ada sekitar 100 ribu orang di 250 gereja di Korea yang percaya terhadap teori yang disebarkan oleh Lee.

Lalu menurut laporan Teresa Watanabe untuk Los Angeles Times tahun 1992, menurut para ahli ada sekitar 200 ribu orang yang beribadah di lebih dari 300 gereja, termasuk di Los Angeles dan New York.

Laporan berita berjudul NO END IN SIGHT AS WORLD TURNS yang terbit di Chicago Tribune pada 29 Oktober 1992 menyatakan, jika makin sering teori tersebut digaungkan Lee, cabang-cabang gereja sekte ini pun didirikan hingga ke luar negeri. Salah satunya adalah Full Gospel Illinois Church di 4601 N. Lawndale Ave, Chicago.

5. 28 Oktober 1992: D-Day

Hari yang telah diprediksi pun datang. Tanggal 28 Oktober pukul tengah malam KST sudah dinantikan oleh banyak orang, tak hanya di Korea Selatan, tapi juga di luar negeri.

Di Seongsan-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan menuju tengah malam pun ada banyak orang yang berdatangan dan berkumpul di sana untuk menyaksikan "Hari Pengangkatan". Beberapa jemaat yang percaya pun mulai muncul dari balik kerumunan dengan menggunakan pakaian rapi serta name tag atau kartu identitas khusus anggota gereja yang telah dikeluarkan oleh pengurus gereja Dami Mission. Dengan begitu, mereka dapat diterima untuk mengikuti "kebaktian terakhir" di gereja.

Bahkan, menurut program Kkokkomu SBS di episode yang sama, pihak gereja bahkan sampai memasang televisi berukuran besar di depan gereja. Ini supaya memudahkan orang-orang yang datang untuk bisa menyaksikan langsung para jemaat tersebut diangkat ke surga.

Menurut laporanLos Angeles Times, setidaknya ada 200 detektif berpakaian preman yang ditempatkan di dalam gereja, 100 jurnalis lokal dan luar negeri, hingga 1.500 polisi anti huru-hara yang dikerahkan, di mana mereka berjaga untuk mengambil tindakan pencegahan bunuh diri massal.

6. Hari Pengangkatan yang berakhir begitu saja

Tengah malam tiba. Lengkingan doa, seruan, dan nyanyian pun terus bertambah kencang digaungkan. Raungan para jemaat yang menangis karena akan "bertemu" dengan Hari Pengangkatan juga kian terdengar.

Sayang, hingga lewat tengah malam doa-doa yang mereka panjatkan setiap harinya pun terasa sia-sia. Tidak ada pengangkatan yang terjadi seperti yang dikatakan oleh Pendeta Lee Jang Rim.

Setelah waktu "deadline" sudah lewat, para jemaat tadi hanya bisa terdiam, bingung, dan merasa kecewa. Orang-orang yang ada di dalam gereja bahkan tidak bisa bertanya apa yang terjadi kepada satu sama lain, karena mereka dihadapkan pada suatu situasi serta kondisi yang sama. Beberapa dari mereka yang langsung menyadari bahwa tidak terjadi apa-apa pun langsung menangis, bahkan hingga merusak kitab hingga fasilitas gereja.

Waktu tengah malam KST sama dengan pukul 09.00 CT (Central Times) di Chicago. Dilansir Chicago Tribune, setelah waktu yang diprediksi berlalu, beberapa jemaat di Full Gospel Illinois Church pun mulai meninggalkan gereja.

Ada juga sanak saudara dan kerabat pada jemaat yang tidak percaya akan Hari Pengangkatan ikut datang ke sana dan menghibur mereka yang kecewa dan malu karena hari tersebut tidak benar-benar terjadi.

7. Bagaimana nasib Lee Jang Rim?

Mungkin kamu bertanya-tanya, lantas apa yang dilakukan sang pemimpin sekte, Lee Jang Rim, saat tanggal 28 Oktober tersebut? Menurut informasi yang ditayangkan dalam program Kkokkomu, sang pendeta melakukan aktivitasnya seperti biasa di dalam penjara. Ia sempat menikmati makan malam dan membaca Alkitab.

Lalu, pada pukul 23.00 KST, sang pendeta diketahui menikmati waktu tidurnya. Terlihat lucu, bukan? Saat ratusan ribu orang jemaatnya di luar sana sedang berjuang dengan kepercayaan mereka dan akhirnya dikecewakan kenyataan, sang pemimpin sekte justru menikmati waktunya sebagai manusia biasa. Peristiwa "gangguan pengangkatan" yang mengguncang Korea pada tahun 1992 ini pun berakhir begitu saja, tanpa ada insiden apa pun.

Lee Jang Rim diketahui dipenjara selama setahun. Setelah menyelesaikan masa hukumannya, Lee diketahui mengganti namanya dan tetap bekerja sebagai pendeta. Namun, tidak diketahui pasti di mana dan apa saja yang ia lakukan setelah keluar dari penjara.

Masyarakat di Korea Selatan seperti membutuhkan suatu kepastian ilahi di tengah-tengah perubahan cepat negara mereka pascaperang, lalu ekonomi yang tiba-tiba merosot tajam, dan berlanjut pada sejumlah kerusuhan politik yang terjadi.

Fenomena rapture ini pun berhasil memicu krisis sosial di Korea Selatan yang tak hanya membuat orang merasa putus asa, tapi juga harus rela kehilangan harta benda, pekerjaan, uang, hingga anak-anak mereka yang belum pernah merasakan indahnya dunia.