ilustrasi atlet esports

Esports adalah salah satu cabang olahraga yang mengandalkan kemampuan otak dan fisik. Oleh karena itu, serupa dengan olahraga konvensional lain, atlet esports juga memiliki risiko untuk mengalami cedera. Bahkan pada kasus yang parah, cedera ini dapat mengakhiri karir seorang atlet esports.

Meskipun hanya duduk dan tidak melakukan pergerakan berat seperti berlari atau melompat, ada hal lain yang dapat menyebabkan seorang atlet esports mengalami cedera. Berikut tim Esports ID rangkum 4 Jenis Cedera yang pernah menimpa atlet esports.

  • Collapsed Lung

 

Collapsed Lung terjadi karena udara yang keluar dari dalam paru-paru mengisi ruang di sekitarnya. Kondisi ini memberikan tekanan dan mencegah paru-paru berkembang seperti seharusnya. Penderita cedera ini biasanya merasakan rasa nyeri di daerah dada atau bahu serta mengalami napas yang pendek.

Cannot go to Allstars anymore, sorry everyone :( pic.twitter.com/POfuXf600z

— Radiance | Hai (@Hai) April 28, 2014

Kasus Collapsed Lung pernah terjadi pada seorang pro player dari game League of Legends, Hai Du Lam. Akibat cedera itu dia harus dilarikan ke rumah sakit dan terpaksa absen dari turnamen di Paris pada 2014 lalu.

Selain Hui Du Lam, Atlet esports lain yang pernah merasakan cedera Collapsed Lung adalah pemain CS:GO Lukas “gla1ve” Rossander pada 2016 silam dan pemain Overwatch Song “Janus” Jun-hwa.

Dilansir dari gutx.id, Caitlin McGee seorang terapis fisik untuk turnamen esports mengungkapkan bahwa seorang gamers tanpa disadari sering menahan napasnya atau pun menarik napas dengan pendek. Hal ini untuk waktu yang lama akan membahayakan efektifitas paru-paru orang tersebut.

  • Sindrom Carpal Tunnel

 

Sindrom Carpal Tunnel (WASD Wrist) adalah cedera akibat penyempitan saraf di lengan yang terjadi karena gerakan yang dilakukan secara berulang, terutama jika pergelangan tangan tertekuk.

Cedera ini dapat menyebabkan rasa nyeri, kesemutan, dan mati rasa bagi penderitanya. Jika dibiarkan, sindrom ini akan menimbulkan efek yang lebih berbahaya. Diantaranya adalah dapat membuat genggaman tangan menjadi lemah.

 

Beberapa atlet esports yang pernah mengalami cedera ini adalah pemain CS:GO Olofmeister dan Ladislav “GuardiaN” Kovacs.

Menurut Dr. Levi Harrison seorang penulis dan dokter esports, melalui kanal youtubenya, dia menyebutkan bahwa risiko Sindrom Carpal Tunnel sebenarnya dapat dicegah. Hal tersebut bisa dilakukan dengan melakukan perenggangan tangan ketika bermain game yang durasinya cukup lama.

  • Tennis Elbow

 

Tennis elbow adalah cedera yang terjadi pada siku bagian luar. Cedera ini menimbulkan rasa sakit pada siku ketika ditekuk. Tennis elbow umumnya terjadi karena penggunaan siku secara berlebihan sehingga menyebabkan otot-otot siku sobek dan dapat terjadi peradangan.

Cedera umumnya terjadi pada tangan yang lebih sering memegang mouse. Hal ini dikarenakan tangan yang memegang mouse lebih sering bergerak jika dibandingkan tangan yang ada di keyboard. Pergerakan ini memberikan beban lebih kepada otot siku di tangan tersebut, sehingga meningkatkan kemungkinan cedera ini.

Salah satu atlet esports yang pernah mengalami cedera ini adalah pemain DOTA 2 ,Clinton “Fear” Loomis. Didiagnosis mengidap cedera tennis elbow pada 2014 membuat Fear terpaksa absen di TI4.

  • Gamer’s Thumb

 

Gamer’s Thumb adalah cedera yang paling sering mengancam pro player esports. Cedera ini terjadi karena penggunaan ibu jari yang berulang dan dalam waktu lama. Gamer’s Thumb terjadi pada selubung tendon otot esktensor pollicis brevis dan abductor pollicis longgus. Otot-otot ini menarik ibu jari menjauh dari tangan dan telapak tangan. Kondisi ini dikategorikan sebagai penebalan dan pengerasan selubung tendon dan sering kali memerlukan pembedahan.

Kasus Gamer’s Thumb pernah terjadi pada salah satu pro player Call of Duty, yaitu Thomas “ZooMaa” Paparatto. Pemain yang baru berusia 25 tahun itu terpaksa harus pensiun dini dikarenakan sudah tidak kuat menahan rasa sakit akibat cedera. Walau sempat dioperasi, Thomas tetap membulatkan tekad untuk pensiun. Hal ini dikarenakan dia tidak ingin memperburuk kondisi tangannya dan menjadi beban di tim dengan kondisinya itu.

Thomas memulai karir profesionalnya sebagai gamer esports sejak 2013. Selama 8 tahun menjadi pemain profesional dia sering memenangkan berbagai ajang turnamen bergengsi bersama timnya.