SHUTTERSTOCK/Maridav
Ilustrasi masker N95. Banyak jenis masker medis yang beredar, selain masker bedah, ada juga masker N95, masker KN95 hingga KF94 yang belakangan cukup populer. Masker-masker ini memiliki perbedaan dari bentuk hingga efektivitas dalam menyaring partikel udara.

SIAPGRAK.COM - Varian baru virus corona, Omicron, telah menyebabkan peningkatan kasus infeksi di sejumlah negara dan membuat perjalanan pandemi semakin panjang.

Penelitian mengungkap, bahwa Omicron menyebar dengan sangat cepat, bahkan melebihi varian Delta. Meskipun gejala yang ditimbulkan cenderung ringan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa varian Omicron tidak boleh diremehkan.

Seluruh orang di dunia juga diimbau untuk tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat, seperti memakai masker. Lantas, jenis masker apa yang terbaik untuk mencegah varian Omicron?

Baca juga: Masker Kain Tak Efektif Melindungi dari Omicron, Pakar Amerika Serikat Jelaskan

Mengenal jenis masker

Beragam jenis masker beredar di masyarakat saat ini, seperti N95, KN95, KF94, masker kain, dan masker bedah.

Respirator N95 yang dipakai dengan benar dapat menyaring hingga 95 persen partikel di udara dikarenakan bahannya pas dan sintetis, yang terdiri dari jaring serat kecil yang diisi dengan energi elektrostatik.

Sementara itu, masker KN95, yang setara dengan N95 di China, dimaksudkan untuk memenuhi standar filtrasi yang sama, tetapi pengawasan regulasi terhadap pembuatannya lebih sedikit.

Adapun masker KF94 yang dibuat di Korea Selatan, yang diproduksi sesuai standar dan dikenakan dengan benar, dapat menyaring hingga 94 persen partikel virus.

Menurut sebuah studi di tahun 2020 yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine, masker bedah memberikan filtrasi yang jauh lebih sedikit daripada N95, sedangkan masker kain memberikan penyaringan lebih sedikit dibandingkan masker bedah.

Jenis masker terbaik untuk mencegah varian Omicron

Melansir Time, dengan tingkat penularan yang tinggi, varian Omicron telah benar-benar mengubah cara dalam melindungi diri dari penyakit ini.

Seorang dokter penyakit menular di Pusat Medis Wexner Universitas Negeri Ohio Dr. Mohammad Sobhanie mengatakan, mengenakan masker dengan baik menjadi salah satu cara melindungi diri dari virus, bersamaan dengan usaha pencegahan lainnya seperti vaksinasi, menjaga jarak sosial, dan memastikan ventilasi yang baik.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences memperkirakan, risiko penularan Covid-19 dapat dikurangi hingga 75 kali lipat saat seseorang sakit dan orang-orang disekitarnya sama-sama mengenakan masker N95.

Sementara tinjauan penelitian yang diterbitkan tahun 2021, memperlihatkan masker N95 mampu mengurangi separuh risiko petugas kesehatan terkena infeksi corona, dibandingkan dengan masker bedah.

"N95 yang digunakan dengan baik akan menjadi masker filter kualitas tertinggi," ujar Direktur Pencegahan Infeksi di UNC Medical Center Emily Sickbert-Bennett.

Kendati begitu, N95 mempunyai kelemahan, seperti tidak terlalu nyaman dikenakan terutama dalam jangka waktu yang lama dan dibanderol dengan harga lebih mahal daripada masker bedah atau masker kain.

Apabila kondisi tersebut malah membuat seseorang tidak mengenakan masker secara konsisten dan benar, maka akan lebih baik menggunakan masker dengan tingkat filtrasi yang lebih rendah.

Dalam kondisi eksperimental, lanjut Bennett, jenis N95 jelas lebih unggul. Namun, seseorang juga perlu memikirkan kehidupan nyata.

Baca juga: Varian Omicron Lebih Menular 105 Persen Daripada Delta, Studi Jelaskan

Sesuaikan dengan situasi

Jika berencana untuk terus mengenakan masker kain atau masker bedah, sebaiknya pastikan masker berfungsi sebaik mungkin, seperti pas di wajah dan tidak menimbulkan celah yang signifikan di bagian samping, atas, atau bawah.

"Efektivitas masker adalah kombinasi dari bagaimana bahan menyaring dan masker cocok dengan wajah," tutur Sickbert-Bennett.

Sementara itu, mengikat simpul telinga pada masker bedah untuk mengencangkannya atau mengenakan masker kain di atas masker bedah dapat meningkatkan perlindungan.

Ditegaskan, kebutuhan jenis masker dapat disesuaikan dengan situasi, seperti saat berada di keramaian atau area yang penuh sesak maka lebih efektif menggunakan masker KN95 atau N95.

"Tapi untuk tempat berisiko rendah, seperti berbelanja cepat di toko yang tidak ramai, masker bedah mungkin sudah berfungsi dengan baik," papar Bennett.

Penyebaran virus tanpa masker

Sebuah penelitian lain yang diterbitkan pada 12 Januari di Journal of Infectious Diseases, para peneliti mengukur jalur tetesan pernapasan dan aerosol saat peserta batuk tanpa mengenakan penutup wajah, masker kain, dan masker bedah.

Ditemukan, partikel bergerak sekitar empat kaki ketika dari peserta yang tidak bermasker, dibandingkan dengan kurang lebih dua kaki saat mengenakan masker kain, dan kurang dari satu kaki saat memakai masker bedah.

Sebuah studi yang dirancang serupa dan telah diterbitkan pada 2020 mengungkapkan, masker N95 dan KF94 lebih baik dalam menahan tetesan dan aerosol daripada masker bedah.

Walaupun demikian, menurut seorang profesor teknik mesin dan kedirgantaaan di University of Central Florida yang merupakan rekan penulis studi Kareem Ahmed menjelaskan, mengenakan masker jenis apapun dapat membatasi penularan aerosol dan tetesan ke orang di sekitar.

Perlu digarisbawahi, masker N95 seharusnya dipakai sekali dan jika harus memakai kembali masker tersebut, maka dapat disimpan di dalam kantong kertas cokelat di lingkungan yang kering dan bersuhu ruangan selama beberapa hari.

Lingkungan dalam ruangan yang padat dan berventilasi buruk tetap menjadi tempat paling berisiko untuk penularan Covid-19.

Bukan tidak mungkin tertular virus di luar, tapi jauh lebih aman jika berada di luar ruangan dibandingkan di dalam ruang padat dengan ventilasi tidak memadai.

Penulis : Mela Arnani Editor : Bestari Kumala Dewi