ilustrasi cemas, stres atau depresi Foto: Shutterstock

Cemas yang dialami remaja bisa berkali-kali lipat dibandingkan orang dewasa, menurut psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo.

"Secara ilmiah ada hormon THP dalam tubuh yang ketika kita cemas hormon ini akan keluar dan meredakan cemas itu. Tapi di remaja, entah kenapa hormon bekerja sebaliknya. Jadi ketika cemas hormon ini melipatgandakan," kata dia, dilansir Antara.

Para peneliti dalam studi yang dipublikasikan jurnal Nature Neuroscience juga menyebutkan, hormon THP yang bisa menenangkan anak-anak dan orang dewasa, justru membuat remaja lebih cemas.

THP yang juga mempengaruhi suasana hati ini juga dapat membuat remaja lebih cemas dengan memblokir reseptor GABA.

Vera menambahkan, remaja masih didominasi oleh emosi sehingga membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Hal ini dipengaruhi prefrontal cortex yang belum optimal.

Oleh karena itu, tidak perlu heran saat melihat remaja merasa seperti langit sedang runtuh hanya gara-gara salah memilih baju atau salah mengenakan sesuatu. Bila orang dewasa menyebutnya berlebihan, maka pada remaja ini hal biasa.

Di sisi lain, pengalaman pertama juga bisa membuat seorang remaja mengalami cemas dan stres. Misalnya SBMPTN yang bagi sebagian mereka menjadi suatu gerbang menuju tahapan jenjang pendidikan selanjutnya.

"Jangankan ujian, tugas juga cukup membuat mereka stres. Setiap kali mereka dievaluasi, dinilai kemampuannya itu bikin stres," kata Vera.

Remaja yang Mudah Cemas dan Stres

Vera mengatakan, mereka yang cenderung terlihat mudah cemas dan stres yakni remaja dengan kemandirian dalam berpikir kurang terlatih.

"Sehingga menjadi kurang tangguh dan tak terbiasa mempunyai rencana cadangan atau back up plan," pungkas dia.