Sandy Walsh mengibarkan bendera Merah Putih.
Sandy Walsh mengibarkan bendera Merah Putih.

SIAPGRAK.COM – Pengamat sepakbola Nasional, Tommy Welly menyebut perkembangan sepakbola Indonesia tertinggal jauh dari Vietnam dan Thailand.

Timnas Indonesia kini sangat kesulitan jika menghadapi dua tim tersebut. Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, level Indonesia dengan Thailand dan VIetnam tak berbeda jauh.

Teranyar, Timnas Indonesia U-23 yang menjadi korban keganasan Vietnam. Pada laga perdana Grup A SEA Games 2021, Indonesia hancur lebur dibantai 0-3.

Indonesia memang mampu bangkit setelah kekalahan memalukan itu. Pasukan Garuda Muda membantai Timor Leste 4-1 dan Filipina 4-0.

Namun, kemenangan tersebut menurut pengamat sepakbola Nasional, Tommy Welly tak boleh membuat Timnas U-23 berpuas diri.

Begitu juga dengan publik dan media yang dinilai tak perlu menggembar-gemborkan kemenangan itu.

Sebab, menurut Tommy Welly, kemenangan melawan Timor Leste dan Filipina adalah hal yang wajar dan harus. Pasalnya, level kedua tim di kawasan Asia Tenggara jauh di bawah Indonesia sejak beberapa dekade terakhir.

Apalagi, kemenangan itu juga belum menghasilkan apa-apa. Timnas U-23 harus menjalani laga hidup mati melawan Myanmar, untuk menyegel tiket lolos ke semifinal.

"Ya, Indonesia berada di bawah Vietnam. dan Vetnam adalah juara bertahan. Faktanya Indonesia ada di bawah Vietnam. Dari pertandingan kemari, bukan skor saja yang kalah. Semua aspek dalam permainan pun kalah," kata Tommy Welly, kepada SIAPGRAK.COM.

“Ya kita Apresiasi menang setelah lawan Vietnam, tapi tak boleh puas karena level Indonesia di atas kedua tim itu. Harusnya pola pikir publik adalah Indonesia di final dan lawa siapa. Tapi kan faktanya sekarang tidak begitu," sambungnya.

Pria yang akrab disapa Bung Towel itu menuturkan, tertinggalnya perkembangan sepakbola Indonesia di kawasan Asia Tenggara lantaran program pembinaan sepakbola usia muda yang tidak berjalan baik.

Buktinya, PSSI saat ini sedang disibukan dengan naturalisasi sejumlah pemain keturunan yakni Jordi Amat dan Sandy Walsh. Kedua pemain itu rencana didatangkan untuk menjalani berbagai agenda, akhir pekan ini.

Towel menyebut, dari situ, PSSI dinilai tak percaya dengan produk buatannya sendiri, yakni komopetisi.

Development sudah benar belum? Ketika federasi sepakbola sibuk naturalisasi, arrtinya tidak percaya dengan produk kompetisi," ucap Towel.

"Jadi, development-nya enggak jalan, kompetisinya penuh keraguan, tidak sehat. Kan, Timnas itu adalah produk dari kompetsi," ucapnya.