Ratu Elizabeth II

SIAPGRAK.COM - Jelang 70 tahun kepemimpinan Ratu Elizabeth II, terjadi skandal hingga suara-suara yang menginginkan monarki Inggris digulingkan.

Sejumlah skandal terjadi di lingkungan Kerajaan Inggris dalam beberapa tahun terakhir.

Mulai dari kasus asusila Pangeran Andrew, keluarnya Pangeran Harry dari anggota senior, hingga tuduhan rasisme di lingkungan kerajaan.

Diketahui, Elizabeth Alexandra Mary dinobatkan sebagai Ratu Inggris pada 6 Februari 1952.

Pengabdian Ratu dikenal sangat dalam kepada monarki, terbukti dengan terjaganya Kerajaan Inggris yang telah berusia hampir 1.000 tahun itu.

SIAPGRAK.COM

Sebuah foto yang dirilis pada 23 Desember 2021 menunjukkan Ratu Elizabeth II dari Inggris berpose saat merekam pesan Hari Natal tahunannya White Drawing Room Windsor Castle, sebelah barat London. (Victoria Jones / POOL / AFP)

"Monarki dan ratu identik bagi kebanyakan orang," kata Graham Smith, kepala kelompok anti-monarki.

"Begitu kita melewati akhir masa pemerintahan ratu, semua taruhan tentang kemana opini publik akan pergi," tambahnya, dikutip dari Reuters

[Dia mengatakan, sementara hanya tindakan parlemen yang diperlukan untuk mengakhiri monarki, kemungkinan besar harus ada referendum terlebih dahulu.

Selama era Elizabeth II, posisi terendah kerajaan terjadi pada 1990an saat kegagalan tiga pernikahan anaknya dan kematian Putri Diana di 1997.

Di sisi lain, kerajaan mendapat simpati publik pada pernikahan Pangeran William dengan Kate Middleton pada 2011, dan kelahiran keturunan monarki.

Istana Buckingham mengatakan, akan menggelar perayaan selama empat hari pada Juni untuk ulang tahun platinum Ratu dan memperingati 70 tahun ia berkuasa.

Skandal Anggota Kerajaan Inggris

Kombinasi gambar yang dibuat pada 12 Januari 2022 ini menunjukkan HakimPangeran Andrew, Duke of York dari Inggris, pada 11 April 2021 di Windsor, Inggris, dan Virginia Giuffre pada 22 Oktober 2019 di New York City. (AFP)

[Bagi pendukung monarki, Ratu dinilai sebagai penstabil dan penyumbang perekonomian Inggris dari segi pariwisata.

Sementara anti-monarki, menganggap kerajaan adalah benteng dari hak istimewa yang tidak layak, didanai para pembayar pajak, dan beberapa anggotanya terlibat skandal.

Pangeran Andrew (61) yang disebut-sebut anak kesayangan Ratu, dicopot dari gelar militer dan perlindungan sebagai anggota kerajaan karena kasus asusila.

Sebelumnya, Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markle keluar dari anggota senior kerajaan dan pindah ke Los Angeles AS.

Pasangan ini juga beberapa kali mengritik keluarganya.

Pangeran Charles baru-baru ini juga disorot karena orang kepercayaannya dituding menawarkan penghargaan sebagai imbalan atas sumbangan di badan amal.

Hasil Jajak Pendapat

Pangeran Charles duduk bersama Ratu Inggris Elizabeth II di The Sovereign's Throne, sebelum Ratu menyampaikan pidato di ruang House of Lords, selama Pembukaan Parlemen di Gedung Parlemen di London pada 19 Desember 2019 (Paul Edwards / POOL / AFP)

[Menurut jajak pendapat pada Desember, mayoritas publik masih menginginkan monarki tetap ada di Inggris dengan 83% berpandangan positif kepada Ratu Elizabeth II.

Di sisi lain, jajak pendapat menunjukkan mayoritas di bawah 30 mendukung menyingkirkan monarki.

Namun tidak ada tanda-tanda Partai Konservatif yang berkuasa akan menyetujui diakhirinya monarki.

November lalu, Barbados mencopot Ratu Elizabeth sebagai kepala negara.

Pangeran Charles, sebagai calon raja, kurang populer terlebih dari kalangan anak muda.

"Saya pikir itu tidak lagi penting," kata seorang siswa bernama Margaux Butler.

"Saya membenci ide itu (Charles menjadi raja). Saya tidak keberatan dengan keluarga kerajaan secara umum, tetapi saya pikir dia agak kontroversial dan saya pikir banyak orang muda merasakan hal yang sama," ujarnya.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)