freepik
freepik

freepik

Sapi adalah hewan yang disucikan dan dimuliakan dalam Tradisi Ajaran Veda Kuno hingga Modern saat ini. Jika kita menggunakan pendekatan karakteristik Makhluk berdasarkan 3 Sifat Alam (Sattvam/Kebaikan, Rajas/Nafsu, dan Tamas/Abai), maka Sapi tergolong hewan yang bersifat Sattvam/Kebaikan karena karakteristiknya yang penuh kelembutan dan kebaikan yang paripurna.

Makhluk apapun yang tergolong dalam sifat Sattvam, sejatinya tidak boleh dibunuh, apalagi hanya karena alasan rendah demi kepuasan nikmat lidah dan perut. Sangat tidak dibenarkan oleh ajaran Veda dari zaman ke zaman untuk dibunuh/disembelih karena alasan demikian.

Al-Quran sendiri mengabadikan Sapi Betina sebagai Judul Surah Al-Quran, yakni Al-Baqarah. Nama Makhluk apapun yang menjadi judul Al-Quran sejatinya berada dalam perlindungan Allah, karena Allah memuliakannya dengan diabadikan sebagai judul Surah Al-Quran, termasuk An-Nahl (Lebah), An-Nahl (Semut), dan hewan lainnya yang dijadikan judul surah Al-Quran, sebagaimana para Ulama melarang membunuhnya tanpa alasan yang dibenarkan.

Namun saya sendiri masih mempertanyakan, mengapa tidak untuk Sapi? Yang sampai detik ini menjadi sumber konflik di kalangan Muslim dan Hindu di Negeri India.

Mengapa demikian? Karena Makhluk-Makhluk hidup tersebut (yang tersurat di Judul Surah Al-Quran) banyak memberikan hikmah pelajaran berharga kepada umat manusia tentang sifat kebaikan di alam dunia ini.

Sapi sejatinya dalam perlindungan para Dewa jika dalam Ajaran Sanatana Dharma, atau dalam Ajaran Abrahamik maka Sapi berada dalam perlindungan Para Malaikat. Karena Sapi sangat berjasa dan berkontribusi terhadap kemajuan spiritual/keruhanian umat manusia dari perahan susunya dan olahan susunya.

Sapi memiliki karakteristik unik, karena ia tidak menjadi kompetitor dalam hal makanan dengan manusia. Sapi rela memakan sisa-sisa makanan yang tidak dimakan manusia yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Ini menunjukkan sifat welas asih sapi kepada umat manusia.

Bahkan di Bali, terdapat tradisi dilarang memakan daging sapi bagi kalangan Brahmana, barangsiapa ada Brahmana memakan daging sapi. Maka Level Ke-Brahmana-annya turun drastis ke level Brahmana Patita, atau Brahmana yang level kebijaksanaannya paling rendah.

Dalam segi kehidupan Balita-pun, balita sangat membutuhkan nutrisi dari Susu Sapi. Susu sapi dapat mencerdaskan spiritual manusia (kecerdasan karakter) jika dikonsumsi secara rutin, bahkan untuk kalangan umur berapapun sampai lansia. Maka barangsiapa makhluk menyusu dari susu makhluk tersebut, secara tidak langsung Sapi berperan sebagai salah satu Ibu Umat Manusia melalui susunya. Ini tidak bisa dipungkiri.

Mengkonsumsi air susu sapi secara rutin setiap hari, sangat berdampak pada level kebijaksanaan seseorang dalam memaknai hidup. Banyak umat sanatana dharma dari kalangan Brahmana yang rajin mengkonsumsi air susu sapi, ketajaman pandangan bathin/ruhani beliau sangat akurat memandang spiritualisme lawan bicaranya, dan beliau semua sangat bijaksana dalam memaknai hidup. Fenomena ini saya saksikan sendiri ketika berkunjung di salah satu Ashram Vaisnava (Penyembah Sri Visnu) di Citeko, Bogor, Jawa Barat.

Saya sendiri melarang kedua orang tua saya untuk makan daging sapi. Saya mengobservasi kedua orangtua saya semenjak berhenti mengkonsumsi daging sapi, beliau tidak dirundung permasalahan, dan hidup beliau berdua terjaga dalam kedamaian tanpa persoalan hidup dan masalah yang signifikan. Dan semenjak beliau berdua berhenti makan daging sapi, beliau berdua begitu penuh kelembutan hati dan menjadi seorang penyayang kepada makhluk apapun yang ada di lingkungan rumah saya.

Saya meneliti, lingkungan tetangga yang senang mengkonsumsi daging sapi sebagai kebutuhan, memiliki berbagai permasalahan mengerikan dan frekuensi permasalahan hidupnya sangat tinggi. Hingga saya menemukan fenomena unik bagi para pemakan daging sapi:

  • Jika seorang yang memakan daging sapi sebagai kebutuhan utama itu orang baik. Maka ia memancarkan energi dan aura yang membuatnya menjadi sasaran orang-orang jahat sebagai target kejahatannya.
  • Jika seorang yang memakan daging sapi sebagai kebutuhan utama itu orang jahat. Maka kadar kejahatannya meningkat berkali-kali lipat.

Sayapun melakukan pendekatan statistika antar hubungan Konsumsi Daging Sapi setiap Daerah dan tingkat kriminalitas, dan hasilnya sangat relevan dengan hasil analisis diatas.

Tingkat Konsumsi Sapi per Provinsi (BPS/Badan Pusat Statistika)

Jawa Timur merupakan Konsumen tertinggi Daging Sapi, dan Kalimantan Utara serta Maluku Utara menduduki posisi Konsumen Daging Sapi paling rendah.

BPS

Jawa Timur menduduki posisi ranking ke-3, dalam kriminalitas yang dilaporkan. Sementara Kalimantan Utara dan Maluku Utara berada di posisi terendah.

BPS

Jawa Timur berada di ranking kedua tertinggi berdasar statistik diatas, dan Kalimantan Utara dan Maluku Utara masih bertahan di posisi ranking terendah.

BPS

Jawa Timur menduduki peringkat ketiga tertinggi sebagaimana statistik diatas, dan Kalimantan Utara dan Maluku Utara masih berada di posisi ranking terendah.

Diatas adalah efek samping dari konsumsi daging sapi dari kacamata Spiritualisme dan tingkat kejahatan. Dan statistika diatas memang menunjukkan, bahwa konsumsi daging sapi dapat mempengaruhi aksi kriminalitas manusia di daerahnya.

Kesadaran untuk menghormati sapi sebagai makhluk yang dimuliakan Ajaran Veda bahkan secara tersirat dalam Al-Quran sekalipun, saya serahkan kepada setiap masing-masing individu. Karena kita hidup di negara yang demokratis, maka keputusan untuk menghindari resiko akibat konsumsi daging sapi, saya kembalikan kepada kesadaran masing-masing.

Upaya penelitian mandiri yang tidak terlegitimasi akademisi ini, melainkan sebuah penelitian olah rasa (nurani), sepenuhnya saya dedikasikan demi kemajuan keruhanian dan pembentukan karakter luhur Bangsa dan Negeri Nusantara Raya.

Demikian, semoga membantu hidup anda.

Referensi: 1, 2.

Tertanda.
Rian.
Cimahi, 22 Mei 2022.

Penulis : Indrian Safka Fauzi