Pemain Paris St Germain Kylian Mbappe mengangkat kaus setelah menandatangani kontrak baru, di Parc des Princes, Paris, Prancis, Sabtu (21/5/2022). Foto: Christian Hartmann/REUTERS

Kubu La Liga menanggapi perpanjangan kontrak Kylian Mbappe di Paris Saint-Germain. Menurut mereka, hal itu merusak tatanan sepak bola, khususnya dalam hal finansial.

Pada Minggu (22/5) dini hari WIB, PSG secara resmi mengumumkan perpanjangan kontrak Mbappe hingga 2025. PSG juga melakukan perayaan atas kesepakatan ini jelang pertandingan melawan FC Metz di Stadion Le Parc des Princes, Paris, Prancis.

''Paris Saint-Germain dengan senang hati mengumumkan bahwa Kylian Mbappe telah menandatangani perpanjangan kontrak tiga tahun dengan klub,'' tulis keterangan resmi PSG, Minggu (22/5).

''Striker internasional Prancis itu sudah menandatangani kontrak baru dengan PSG hingga 30 Juni 2025,'' lanjut mereka.

Pemain Paris St Germain Kylian Mbappe berfoto dengan presiden Paris St Germain Nasser Al-Khelaifi setelah menandatangani kontrak baru, di Parc des Princes, Paris, Prancis, Sabtu (21/5/2022). Foto: Christian Hartmann/REUTERS

Sebelumnya, Mbappe erat dikaitkan dengan kepindahannya ke Real Madrid. Mbappe disebut akan meninggalkan PSG usai kontrak awalnya habis pada Juni 2022, sehingga Madrid bisa mendapatkan Mbappe dengan statusfree transfer.

Kesepakatan baru Mbappe dan PSG tentu membawa bahagia bagi kubu PSG. Namun, pihak La Liga selaku otoritas kompetisi di Spanyol menentang kesepakatan tersebut.

La Liga menilai bahwa tindakan PSG tak sejalan dengan prinsip-prinsip finansial klub sepak bola. Hal ini menurut mereka akan membawa dampak buruk bagi kelangsungan industri sepak bola.

La Liga juga menyinggung soal kondisi finansial PSG, yang dalam beberapa musim terakhir mengalami kerugian. Selain itu, La Liga juga menyinggung keanehan lain soal kondisi finansial PSG.

Ilustrasi logo La Liga. Foto: Brian Ach/Getty Images

Pernyataan Resmi La Liga

La Liga ingin menyatakan bahwa jenis perjanjian ini menyerang stabilitas ekonomi sepak bola Eropa, membahayakan ratusan ribu pekerjaan dan integritas olahraga, tidak hanya di kompetisi Eropa, tetapi juga di liga domestik.

Sangat memalukan bahwa klub seperti PSG, yang musim lalu melaporkan kerugian lebih dari 220 juta euro [sekitar Rp 3,4 triliun, dengan biaya skuad sekitar 650 [sekitar Rp 10,07 triliun, dalam keputusan yang aneh, membatalkan sanksi.

La Liga dan banyak lembaga sepak bola Eropa memiliki harapan bahwa Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi setelah memasuki badan manajemen sepak bola Eropa seperti Komite Eksekutif UEFA dan presiden Asosiasi Klub Eropa (ECA) akan menjauhkan diri dari praktik ini karena mengetahui bahwa mereka menyebabkan dampak parah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. PSG melakukan investasi yang tidak mungkin, melihat bahwa ia memiliki tagihan upah yang tidak dapat diterima dan kerugian finansial yang besar di musim-musim sebelumnya. Ini melanggar aturan kontrol ekonomi UEFA dan Prancis saat ini.

Perilaku ini menunjukkan sekali lagi bahwa klub milik negara itu tidak menghormati dan tidak ingin menghormati aturan sektor yang sama pentingnya dengan sepakbola. Aturan-aturan ini adalah kunci untuk melindungi dan mempertahankan ratusan ribu pekerjaan.

Perilaku seperti ini yang dipimpin oleh Al-Khelaifi, presiden PSG, dan anggota Komite Eksekutif UEFA dan presiden ECA, membahayakan sepak bola Eropa setara dengan Liga Super Eropa.